Gagal Lunasi Utang, Venezuela Akan Segera Bangkrut

Para aktivis anti pemerintah berlari saat dihalau oleh polisi dalam aksi protes lanjutan mereka atas penolakan kebijakan Presiden Venezuela, Maduro di Caracas, Venezuela, 30 Juli 2017. (AFP/Juan Barreto)

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Senin, 13 November 2017 | 18:06 WIB

Caracas - Venezuela diperkirakan akan mengalami kebangkrutan dalam 24 jam dan memicu krisis keuangan global sebesar US$ 60 miliar. Media Inggris, express.co.uk, menyatakan krisis tersebut terungkap setelah perusahaan minyak milik negara Petróleos de Venezuela, SA (PDVSA) belum melakukan pembayaran utang tunggal ke produsen minyak utama Oil and Natural Gas Corporation Limited (ONGC) selama enam bulan.

Sebelumnya PDVSA menggunakan bank milik negara Rusia dan perusahaan energi India lainnya sebagai perantara untuk melakukan pembayaran. Tetapi sejak April, PDVSA belum melakukan pembayaran ke ONGC yang juga berutang US$ 540 juta dalam simpanan dividen karena investasi yang dilakukan perusahaan India atas sebuah proyek energi di Venezuela.

Pekan lalu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan negara tersebut berencana untuk merestrukturisasi beberapa obligasi senilai US$ 60 miliar, sejumlah besar utang yang dipegang oleh PDVSA.

ONGC Videsh, anak perusahaan investasi luar negeri ONGC, mengungkapkan PDVSA telah gagal memenuhi tenggat pembayarannya. Perusahaan India tampaknya cukup tenang soal kurangnya pembayaran selama setengah tahun dan menyatakan bahwa mereka bersedia memberi Maduro keuntungan dari keraguan tersebut.

"Mereka mendapat tantangan tertentu pada tahap ini. Mereka telah meyakinkan bahwa mereka mengerjakannya (pembayaran iuran). Pada waktunya akan diselesaikan dan langkah tindak lanjut akan dilakukan,” kata juru bicara ONGC Videsh.

Meskipun demikian, Venezuela bisa menyatakan kebangkrutan dalam beberapa jam.
Tagihan pembayaran terakhir PDVSA yang tidak dibayar sebesar US$ 1,1 miliar sejak Jumat lalu.

“Belum ada komunikasi resmi mengenai penundaan pembayaran. Sangat aneh, dana belum diterima padahal cukup waktu untuk diproses jika dana tersebut dikirim minggu lalu seperti yang ditunjukkan pejabat,” kata Siobhan Morden, kepala strategi obligasi Amerika Latin di Nomura.

Menurut Bloomberg, Asosiasi Swap dan Derivatif Internasional telah sepakat untuk meninjau permintaan untuk menentukan apakah tahap gagal telah terjadi karena kurangnya pembayaran.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan tingkat inflasi Venezuela akan naik hingga lebih dari 2.300% pada 2018. Perkiraan produk domestik bruto (PDB) yang dibuat untuk 2017 dan 2018 akan direvisi turun menjadi 12% dan 6%.

Bank sentral Venezuela telah menghentikan penerbitan data inflasi pada Desember 2015. Sementara IMF berpendapat harga- harga konsumen negara tersebut diperkirakan melonjak 2.349,3% pada tahun 2018, tertinggi dalam perkiraan.

Pada Jumat, seorang sumber yang mengetahui perundingan mengatakan kedua negara diperkirakan akan menandatangani kesepakatan restrukturisasi utang pada 15 November 2017 dengan jangka waktu sekitar 10 tahun, dengan pembayaran meningkat secara bertahap.

Sumber juga mengatakan Venezuela harus membayar kembali sejumlah uang Rusia sebelum akhir tahun 2017 untuk kesepakatan itu. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Venezuela juga harus membayar eksportir Rusia untuk produk yang sudah dikirim.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan Venezuela telah sepakat untuk merestrukturisasi utang ke Moskwa senilai US$ 3 miliar berdasarkan persyaratan yang disepakati sebelumnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT