Trump Klaim Bersahabat Baik dengan Duterte

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri) berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump di sela KTT ASEAN di Manila, 13 November 2017. (AFP)

Oleh: Heru Andriyanto / HA | Senin, 13 November 2017 | 17:32 WIB

Manila - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dia menjalin hubungan yang hebat dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yang pernah mengakui sebagai seorang pembunuh dan saat ini menyatakan perang terhadap narkoba.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat mereka berdua bertemu di Manila, Senin (13/11).

Trump berada di Filipina bersama para pemimpin dari 18 negara yang hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN. Kunjungan dia juga bagian dari lawatan 12 hari ke Asia termasuk Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Vietnam.

Berbagai kelompok hak asasi manusia, yang mengecam perang anti-narkoba Duterte karena diduga melibatkan pembunuhan massal, menyerukan agar Trump membuat pernyataan keras terhadap Duterte.

Namun Trump dan Duterte yang bertemu beberapa kali sepanjang Minggu malam dan Senin pagi tampak sangat menikmati perjumpaan mereka.

"Kami punya hubungan yang hebat. Ini sangat sukses," Trump bicara ke Duterte dalam kalimat pembukaan saat mereka bertemu.

Trump memuji Duterte karena penyelenggaraan KTT yang disebutnya ditangani "dengan indah".

"Saya sangat menikmati hadir di sini," kata Trump.

Ketika para reporter mulai diminta keluar ruangan, salah satu dari mereka sempat bertanya apakah Trump akan mengangkat masalah HAM, dan direspons secara berseloroh oleh Duterte dengan menyebut media sebagai "mata-mata". Mereka berdua tertawa, namun tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.

Juru bicara Duterte kemudian mengatakan bahwa Trump tidak mengangkat isu HAM dalam pertemuan yang berlangsung 40 menit itu.

Namun juru bicara Trump, Sarah Huckabee Sanders, mengatakan isu HAM menjadi salah satu topik walaupun hanya singkat saja.

Duterte terpilih sebagai presiden tahun lalu setelah berjanji untuk membasmi narkoba dengan aksi yang kemudian diduga membuat sekitar 100.000 orang tewas.

Sejak dia menjabat, polisi telah menewaskan 3.967 orang dalam operasi penumpasan kriminal. Selain itu 2.290 lainnya terbunuh dalam operasi anti-narkoba, sementara kasus kematian ribuan orang lainnya belum terpecahkan, menurut data pemerintah.

Banyak warga Filipina yang mendukung Duterte, meyakini bahwa dia mengambil tindakan yang tepat untuk membasmi kejahatan. Namun para aktivis HAM mengingatkan bahwa Duterte melakukan kejahatan kemanusiaan.

Amnesty International menuduh Kepolisian Filipina menembak mati orang-orang tak bersenjata, dan membayar orang lain membunuh para pecandu narkoba.

Saat ditanya soal tuduhan pembunuhan tanpa peradilan (extra-judicial killing) yang dilakukan polisi, Duterte berkeras bahwa dia tak pernah memerintahkan mereka untuk melanggar hukum.

Namun aktivis HAM mengatakan polisi meniru nafsu membunuh Duterte, termasuk pernyataan yang dia sampaikan tahun lalu bahwa dia "akan senang membantai" 3 juta pecandu narkoba.

Dia juga beberapa kali sesumbar pernah membunuh orang, terakhir kali dikatakannya pekan lalu saat berada di Vietnam dalam ajang KTT APEC.

"Pada usia 16 tahun, saya sudah membunuh seseorang. Orang yang sebenarnya, penusukan. Saya baru 16 tahun, gara-garanya hanya karena dipandangi," kata Duterte.

Mantan presiden AS Barack Obama adalah salah satu pengkritik perang narkoba Duterte. Presiden Filipina itu merespons dengan menyebutnya sebagai "anak pelacur".

Hubungan Filipina dengan AS -- dua sekutu lama yang terikat perjanjian pertahanan -- memburuk dengan tiba-tiba ketika Duterte berpaling ke Tiongkok dan Rusia.

Tahun lalu Duterte menyatakan bahwa Filipina telah berpisah dengan AS.

Pada April, Trump bicara lewat telepon dengan Duterte dan memujinya, sehingga memulihkan hubungan diplomatik.

"Kami adalah sekutu Anda. Kami adalah sekutu yang penting," kata Duterte, Senin (13/11), menegaskan bahwa hubungan dua negara kembali ke jalurnya meskipun dia masih dekat dengan Tiongkok dan Rusia.

Selain 10 negara ASEAN, pertemuan dua hari di Manila juga melibatkan AS, Tiongkok, Jepang, Rusia, Korea Selatan, India, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Duterte menjadi tuan rumah karena Filipina kebetulan sedang mendapat giliran sebagai pemimpin ASEAN.




Sumber: AFP
ARTIKEL TERKAIT