3.000 Milisi ISIS Masih Bertahan di Irak dan Suriah

Pejuang SDF merayakan keberhasilan merebut Kota Raqqa dari ISIS, Selasa 17 Oktober 2017. (AFP)

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Rabu, 6 Desember 2017 | 18:11 WIB

Baghdad - Sekitar 3.000 milisi kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) masih berada di Irak dan Suriah. Meskipun sudah jauh berkurang, mereka masih menjadi sumber ancaman yang potensial.

Pada Selasa (5/12), Kolonel Angkatan Darat AS Ryan Dillon, Juru Bicara Koalisi Internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) mengatakan kurang dari 3.000 personel kelompok milisi garis keras Sunni itu tetap bertahan di Irak dan Suriah.

"Perkiraan saat ini adalah bahwa ada kurang dari 3.000 pejuang #Daesh yang tersisa - mereka masih tetap menjadi ancaman, namun kami akan terus mendukung kekuatan mitra kami untuk mengalahkan mereka," ujar Dillon lewat jejaring Twitter seraya menggunakan akronim bahasa Arab untuk ISIS.

Kicauan Dillon di Twitter adalah bagian dari respons terhadap sesi tanya jawab daring. Koalisi juga menyatakan telah melatih 125.000 anggota pasukan keamanan Irak. Sebanyak 22.000 orang di antaranya adalah pejuang Peshmerga Kurdi.

Mengenai kemungkinan rencana AS membangun pangkalan militer permanen di Irak atau Suriah, setelah kekalahan Negara Islam, Dillon mengatakan tidak akan melakukannya.

"Tidak - Pemerintah #Iraq tahu di mana dan berapa banyak dari Koalisi ada di sini untuk mendukung operasi untuk mengalahkan #Daesh; semua basis #dipimpin Irak," tambahnya.

Koalisi akan memulai transisi dari fokus merebut kembali wilayah, menjadi mengonsolidasikan keuntungan, menyusul pertemuan para pemimpinnya dengan komandan militer Irak.

"Kami akan terus mendukung mitra Irak kami dalam perang melawan ISIS (Negara Islam) dengan pelatihan, peralatan, saran dan bantuan," kata Mayor Jenderal Felix Gedney, Wakil Komandan Strategi dan Dukungan Koalisi.

"Tahap berikutnya akan fokus pada penyediaan keamanan yang langgeng, sekaligus mengembangkan keberlanjutan dan kemandirian Irak. Koalisi pimpinan AS bertanggung jawab atas pembebasan lebih dari 4,5 juta orang Irak dan wilayah sekitar lebih dari 52.200 km2," katanya.

Meskipun demikian, koalisi tetap menuai kecaman. Ada sejumlah korban sipil yang jatuh akibat serangan udara yang dilakukan untuk mendukung pasukan lokal. Kelompok pemantau Airwars menyatakan setidaknya 5.961 warga sipil telah terbunuh oleh serangan udara koalisi.

Koalisi menyatakan pihaknya berusaha keras untuk menghindari korban sipil dan masih memeriksa 695 laporan korban tersebut dari serangan di Irak dan Suriah.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT