Disidang, Rencana Pembunuhan PM Inggris

Theresa May. (AFP)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Kamis, 7 Desember 2017 | 17:59 WIB

London - Seorang pria yang diduga merencanakan pembunuhan Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May tampil di muka sidang, Rabu (6/12), dan didakwa dengan kejahatan terorisme. Pria bernama Naa'imur Zakariyah Rahman (20), yang menggambarkan dirinya di persidangan sebagai orang Inggris keturunan Pakistan, ditangkap pekan lalu.

Pria kedua, Mohammed Aqib Imran (21), dari Birmingham, akan dihadirkan dalam persidangan berikutnya. Imran juga didakwa melakukan tindakan terorisme. Ketika ditanya tentang kewarganegaraannya di di pengadilan, Imran mengaku sebagai warga Inggris keturunan Bangladesh.

Berdasarkan dokumen-dokumen pengadilan, Rahman berencana meledakkan perangkat peledak di pintu masuk Downing Street dan berusaha mendapatkan akses ke kediaman resmi PM di nomor 10 dan berusaha untuk membunuh PM.

“Serangan kedua pada nomor 10 (kediaman PM) dilakukan dengan memakai rompi anti-peluru, semprotan merica, dan sebuah pisau,” sebut dokumen tersebut.

Rahman telah melakukan pengintaian bermusuhan di wilayah yang merupakan bagian dari persiapannya untuk melakukan aksinya. Dia berniat menyerang, membunuh, dan menyebabkan ledakan, seperti terekam dalam sejumlah percakapan.

Dalam tuduhan terkait, Imran diduga mencoba untuk mendapatkan paspor palsu karena ingin meninggalkan Inggris dan pergi ke Libia. Saat penangkapan, Imran ditemukan dengan kepemilikan sebuah video pendek yang direkam oleh Rahman, selaku penyokongnya untuk membantunya masuk ke Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan berjuang dengan kelompok teroris itu.

Rahman diduga membuat video itu pada Novembe lalu dengan harapan menjadi seorang martir. Rekaman itu juga akan memberikan Imran kredibilitas lebih besar bagi organisasi teroris.

Para pengacara untuk Rahman dan Imran tidak ada indikasi, artinya kasus itu berlanjut jika mereka menyatakan diri tidak bersalah. Kedua tersangka telah ditahan tanpa jaminan dan akan tampil lagi di persidangan pada 20 Desember.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT