Usai Tangkapi Ratusan Orang, Saudi Hentikan Penangkapan Tersangka Koruptor

Pergantian tiga putra mahkota Arab Saudi di era Raja Salman. (Al Jazeera)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Kamis, 7 Desember 2017 | 18:05 WIB

Riyadh -Arab Saudi telah menyelesaikan gelombang utama penangkapan kepada para tersangka korupsi dan sedang bersiap untuk menyalurkan miliaran dolar dana yang berhasil direbut, ke proyek-proyek pembangunan. Tindakan keras anti-korupsi Saudi sejauh ini telah menangkap 200 orang termasuk para anggota keluarga kerajaan, dan membekukan 2.000 rekening bank.

Otoritas memperkirakan dana yang berhasil didapatkan dari aksi tersebut mencapai US$ 50-100 miliar. Langkah yang datang dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman itu telah berhasil mengambil aset-aset dari sejumlah orang terkaya dan paling berkuasa di Saudi.

“Sejauh ini yang saya tahu seperti itu,” kata Menteri Perdagangan dan Investasi Majid bin Abdullah al-Qasabi kepada Reuters, saat dikonfirmasi mengenai penghentian penangkapan para pejabat tinggi dan pengusaha yang diduga korupsi.

“Sekarang pemerintah tidak akan berdiam diri ketika melihat sebuah kasus korupsi. Jadi pasti tindakan itu akan dilakukan, tapi saat ini, dalam hal besarannya, skalanya, bagaimana, mengapa, dan saat ini, itu saja,” tambah Qasabi.

Puluhan pangeran, pejabat, dan pengusaha telah ditangkap akhir bulan lalu. Tindakan keras ini juga dianggap untuk memperkuat otoritas Mohammed.

Sejumlah tersangka akan maju ke pengadilan, tapi otoritas masih berusaha mencapai penyelesaian keuangan dengan sebagian besar dari mereka. Salah satunya yang berhasil adalah pangeran senior Miteb bin Abdullah, yang disebut-sebut setuju untuk membayar sampai US$ 1 miliar (Rp 13,5 triliun).

Sebuah rekening khusus Kementerian Keuangan Saudi telah dibuka untuk menerima aliran dana dari harta tersangka korupsi. “Uang ini pastinya akan digunakan untuk perumahan, untuk kebutuhan masyarakat umum, karena ini adalah uang untuk rakyat. Tidak akan dipakai untuk kepentingan lain, selain proyek-proyek pembangunan,” kata Qasabi.

Menurutnya, jaksa penuntut umum dalam beberapa hari akan mengeluarkan pernyataan atas status penyelidikan, termasuk jumlah orang yang ditahan dan jumlah orang yang menghadapi dakwaan hukum.

Riyadh saat ini mencari sejumlah besar investasi asing dan dari Amerika Serikat (AS) untuk mengurangi ketergantungannya kepada ekspor minyak. Qasabi mengaku para pengusaha AS sedikit khawatir akan dampak potensial dari tindakan keras korupsi tersebut.

“Mereka khawatir jika ini akan berakhir atau dimana akan berhenti. Tapi mereka semua berpikir ini akan baik untuk negara karena kepemimpinan negara itu tampak jelas untuk memerangi korupsi, dan pada akhirnya menjadi tingkat permainan bagi setiap orang,” tambahnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT