AS: Bencana Iklim 2017 Timbulkan Kerugian US$ 306 Miliar

Seorang anggota polisi memeriksa reruntuhan rumah yang hancur setelah badai Harvey menghantam wilayah Rockport, Texas, 26 Agustus 2017. (AFP/Mark Ralston)

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Selasa, 9 Januari 2018 | 17:59 WIB

Washington - Bencana iklim besar di Amerika Serikat (AS) sepanjang 2017 telah mengakibatkan kerugian hingga US$ 306,2 miliar atau Rp 4.113 triliun dan menewaskan ratusan orang. Dampak bencana 2017 lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.

Pada Senin (8/1), Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menyatakan peristiwa iklim yang merusak terjadi pada tahun terpanas ketiga yang tercatat di AS.

Menurut NOAA, sedikitnya 362 orang tewas dalam bencana iklim yang mencakup tiga badai besar: Harvey, Maria, dan Irma.

"Selama tahun 2017, AS mengalami tahun yang bersejarah terkait cuaca dan bencana iklim. Kerusakan kumulatif dari 16 peristiwa di AS pada 2017 adalah US$ 306,2 miliar, yang mengalahkan rekor kerugian tahunan AS sebelumnya sebesar US$ 214,8 miliar yang terjadi pada tahun 2005," kata badan cuaca tersebut.

Kerugian akibat Badai Harvey yang menerjang Texas melebihi US$ 125 miliar (Rp 1.679 triliun). Harvey menempati urutan kedua setelah Badai Katrina, yang mencapai nilai kerugian US$ 160 miliar (Rp 2.149 triliun). Katrina merupakan badai paling “mahal” dalam catatan sepanjang 38 tahun.

Sementara itu, badai Maria dan Irmamenimbulkan kerusakan masing-masing sebesar US$ 90 miliar (Rp 1.209 triliun) dan US$ 50 miliar (Rp671,7 miliar). Kebakaran hutan yang mematikan di sembilan negara bagian barat AS juga menyebabkan kerusakan sebesar US$ 18 miliar (Rp 241,8 triliun) atau tiga kali lipat dari rekor sebelumnya.

Bencana iklim yang berdampak besar lainnya adalah badai, kekeringan, dan banjir yang parah. Para ilmuwan dari Pusat Informasi Lingkungan Nasional NOAA mengatakan tahun 2017 adalah tahun yang terpanas ketiga di Amerika Serikat dalam 123 tahun sejak data tersebut dicatat. NOAA mencatat lima tahun terpanas bagi AS yang seluruhnya telah terjadi sejak 2006.

NOAA tidak menghubungkan perubahan iklim akibat ulah manusia dengan bencana besar yang terjadi tahun lalu. Namun, banyak ilmuwan berpendapat pembakaran gas dan rumah kaca oleh manusia telah memainkan peran penting dalam meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana iklim.

Satu laporan baru-baru ini yakni Kasus Ekonomi untuk Aksi Iklim di AS, mencatat bahwa jumlah kejadian cuaca ekstrem telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir dengan 21 kasus pada tahun 1980-an, 38 kasus pada tahun 90-an, dan 92 kasus antara tahun 2006-2016. Tercatat lebih dari dua kasus masuk skala berat.

"Kerugian ekonomi dari kejadian cuaca ekstrem meningkat dengan cepat. Terlepas dari meningkatnya kerugian ekonomi dan biaya pada kehidupan, kesehatan, rumah, bisnis, dan mata pencaharian, AS masih terus terutama mengandalkan bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi yang jadi penyebab utama perubahan iklim," bunyi pernyataan NOAA.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT