64 Migran Tewas Tenggelam di Laut Mediterania

64 Migran Tewas Tenggelam di Laut Mediterania
Jalur pencari suaka menuju Uni Eropa. ( Foto: AFP Photo / Simon MALFATTO, Jean Michel CORNU )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 9 Januari 2018 | 17:02 WIB

Tripoli - Sekitar 64 migran diduga tewas setelah perahu karet yang ditumpangi di perairan lepas pantai Libia, akhir pekan lalu. Pada Senin (8/1), Juru Bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Flavio Di Giacomo mengatakan di Twitter bahwa ada 150 migran di perahu tersebut saat peristiwa pada Sabtu (6/1).

Dengan menyebutkan kesaksian korban selamat, Di Giacomo menambahkan 86 orang diselamatkan dari perairan oleh Penjaga Pantai Italia. Di Giacomo mengatakan delapan mayat ditemukan dan sisanya masih hilang dan diduga meninggal.

Menurut penelitian CNN, kejadian ini merupakan perahu karam di Mediterania pertama yang dilaporkan menewaskan migran pada tahun 2018. Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Senin, penjaga pantai Italia mengkonfirmasikan telah menyelamatkan 86 migran dari pantai Libia namun tidak menjelaskan secara detail jumlah orang yang masih hilang.

Pihak berwenang Italia mengatakan pada Minggu bahwa satu perahu terpantau sehari sebelumnya oleh pesawat patroli yang beroperasi sebagai bagian dari operasi anti-penyelundupan Eropa.

Sebelumnya, Angkatan Laut Libia mengklaim telah menyelamatkan 272 migran yang terdampar di Laut Mediterania. Menurut pernyataan militer Libia, Minggu (7/1), para migran itu sedang berupaya mencapai daratan Eropa selatan.

Dikatakan, para migran tersebut berada di dua kapal. Mesin salah satu kapal tenggelam ke laut, sedangkan mesin kapal yang lainnya mogok.

Para migran termasuk 53 perempuan dan 57 anak-anak. Mayat dua migran perempuan ditemukan di salah satu kapal. Seluruh korban yang selamat dibawa ke satu pelabuhan di Tripoli, ibu kota Libia.

Sejak pemberontakan tahun 2011, Libia telah diganggu oleh pelanggaran hukum dan peraturan oleh milisi yang menggulingkan dan membunuh diktator Moammar Kadhafi. Kekacauan telah memungkinkan negara Afrika Utara menjadi titik transit utama bagi para migran yang ingin mencapai Eropa.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE