Bom dan Rudal Korut Hanya Ditujukan ke AS

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un (kedua kanan) melihat perangkat logam di lokasi yang tidak diketahui. Korea Utara telah mengembangkan bom hidrogen yang dapat dimasukkan ke dalam rudal balistik antarbenua. (AFP)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Rabu, 10 Januari 2018 | 17:03 WIB

Seoul - Korea Utara dan Korea Selatan siap untuk melakukan perundingan militer setelah kedua negara itu menggelar pembicaraan formal, Selasa (9/1). Pertemuan ini menjadi peristiwa pertama kalinya kedua saingan tersebut setelah lebih dari dua tahun.

Dalam pernyataan bersama setelah11 jam pertemuan, kedua negara menyatakan sepakat meredakan ketegangan militer saat ini dan menggelar pembicaraan militer untuk mengatasi persoalan itu.

Korut dan Korsel juga setuju bertemu lagi untuk menyelesaikan masalah-masalah dan mencegah konflik yang disengaja.

“Semua senjata kami, termasuk bom-bom atom, bom-bom hidrogen, dan rudal-rudal balistik, hanya ditujukan kepada Amerika Serikat (AS), bukan saudara kami, atau pun Tiongkok dan Rusia,” kata kepala juru runding Pyongyang, Ri Son Gwon, dalam pertemuan yang digelar di Panmunjon, dekat zona demiliterisasi kedua negara, Selasa (9/1).

Lewat pertemuan itu, Korut juga berjanji mengirimkan sebuah delegasi besar untuk acara Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang di Korsel bulan depan. Namun, negara itu menyampaikan keluhan keras setelah Seoul mengusulkan pembicaraan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea.

“Ini bukan sebuah persoalan antara Korut dan Korsel, dan untuk mengangkat isu ini bisa menimbulkan konsekuensi negatif dan resiko mengubah pencapaian baik saat ini menjadi tidak berarti,” kata Ri dalam sambutan penutupnya.

Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri tidak merespons permintaan komentar terkait pernyataan Ri tersebut. Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong Un, saling mengeluarkan ancaman dan penghinaan tahun lalu sehingga menimbulkan kekhawatiran akan perang baru di semenanjung.

AS yang memiliki 28.500 pasukan di Korsel sebagai warisan Perang Korea 1950-1953, awalnya menanggapi dengan dingin ide pertemuan antar-Korea, tapi Trump kemudian menyebutnya sebagai sebuah hal baik dan mengaku ingin berbicara dengan Kim.

“Pada saat yang tepat, kita akan terlibat,” kata Trump, Sabtu (6/1).

Dalam pertemuan kemarin, Korsel meminta tetangganya itu untuk menghentikan tindakan permusuhan yang memicu ketegangan di semenanjung tersebut. Sebagai timbal balik, Korut sepakat bahwa perdamaian harus dijamin di kawasan.

Sebelumnya, Seoul menyatakan sedang bersiap untuk mencabut sementara beberapa sanksi, sehingga para pejabat Korut bisa mengunjungi Korsel untuk mengikuti pertandingan tersebut. Delegasi Korut sendiri akan terdiri dari para atlet, para pejabat tingkat tinggi, regu pemandu sorak, artis seni, reporter, dan para penonton.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT