Stephen Hawking, Menjelajahi Alam Semesta dari Kursi Roda

Stephen Hawking, Menjelajahi Alam Semesta dari Kursi Roda
Stephen Hawking. ( Foto: ist )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Rabu, 14 Maret 2018 | 16:23 WIB

"Lihatlah ke bintang-bintang, bukan ke kakimu. Pelajari apa yang kamu lihat dan bertanyalah bagaimana alam semesta tercipta. Selalu ingin tahu".

Kutipan dari Stephen Hawking tersebut menggambarkan karakteristik utama dirinya: selalu ingin tahu di tengah-tengah keterbatasan yang dimilikinya. Fisikawan modern dari Universitas Cambridge ini menjelajahi kosmos dari kursi rodanya, menginspirasi jutaan manusia dengan teorinya mengenai alam semesta.

Hawking meninggal dunia di usia 76 tahun dengan tenang di kediamannya di Cambridge. Hawking meninggal dunia akibat komplikasi amyotrophic lateral sclerosis (ALS), yaitu penyakit degeneratif yang menyerang susunan saraf.

"Tidak ada ilmuwan sejak Albert Einstein yang mampu menangkap imajinasi publik dan dicintai oleh jutaan orang di seluruh dunia," itulah Hawking menurut profesor fisika teoretis dari City University of New York, Michio Kaku, dalam sebuah wawancara.

Stephen William Hawking lahir di Oxford, Inggris pada 8 Januari 1942. Dia adalah pakar gravitasi, penerus Galileo. Pada tahun 1963, Hawking didiagnosa menderita ALS, yang melumpuhkan seluruh tubuhnya kecuali jari dan mata. Dokter memperkirakan umurnya pendek tetapi dia mampu hidup hingga lebih dari lima dekade.

“Ketika kamu berada di ambang kematian, kamu akan menyadari bahwa hidup itu sangat berharga dan banyak hal yang ingin kau lakukan," kata Hawking dalam sebuah wawancara.

Buku Hawking " “A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes,” mencoba menjelaskan asal muasal alam semesta. Buku ini dipublikasikan pada tahun 1988 dan telah terjual sebanyak 10 juta kopi di seluruh dunia. Kisah Hawking juga dijadikan film dokumenter pada tahun 2015 berjudul "The Theory of Everything". Film yang diperankan Eddie Redmayne sebagai Hawking mendapatkan Piala Oscar sebagai aktor terbaik dan beberapa nominasi lain.

Hawking menjadi terkenal di kalangan ilmuwan karena penelitiannya mengenai "lubang hitam", lubang di luar angkasa dengan kekuatan gravitasi luar biasa yang bahkan mampu menyedot cahaya. Hawking menggunakan teori kuantum untuk menjelaskan fenomena lubang hitam.

Menurut Hawking, lubang hitam justru mengeluarkan partikel. Dalam sebuah jurnal Nature dengan judul “Black Hole Explosions?," Hawking menjelaskan bahwa memancarkan radiasi partikel. Teori Radiasi Hawking mengubah pandangan ilmuwan mengenai lubang hitam, dari sumber kehancuran menjadi sumber penciptaan.

Kematian Hawking menandakan hilangnya ilmuwan terbaik generasi ini. Lembaga antariksa AS, NASA, lewat Twitter mengunggah video mengenang Hawking. "Semoga engkau tetap terbang seperti superman dalam mikrogravitasi".

Astrofisikawan Neil deGrasse Tyson mengatakan kepergian Hawking meninggalkan kehampaan intelektual. Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan Hawking membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. CEO Microsoft Satya Nadella juga mengucapkan turut berduka lewat Twitter.

Hawking dikenang sebagai ilmuwan yang menawarkan teori atas misteri alam semesta, tetapi ada satu misteri yang tidak bisa ia pecahkan. "Perempuan. Mereka sangat misterius bagiku," kata Hawking kepada majalah New Scientist.



Sumber: NY Times, Guardian
CLOSE