Aktivis HAM tuna netra China Chen Guangchen
Mereka akan tinggal di apartemen di Manhattan

Aktivis tunanetra China chen Guangcheng memulai hidup barunya di Amerka Serikat, setelah melewati drama diplomatik tingkat tinggi antara Beijing dan Washington.

Chen ditemani istrinya, Yuan Weijing dan dua anak mereka berusia delapan dan enam tahun tiba di bandara Newark Liberty International, di luar kota New York, menggunakan penerbangan United Airlines dari Beijing.

Ia mendarat hari Sabtu pukul 23.30 hari waktu setempat.

Keluarganya diperkirakan akan membuat penyataan di New York sebelum mereka menghabiskan hari pertamanya di daratan Amerika Serikat. Mereka akan tinggal di apartemen di Manhattan.

Ketibaannya di Amerika Serikat merupakan langkah terbaru dari perjalanan hidupnya yang dramatis. Chen kabur dari tahanan rumahnya pada bulan April, setelah tujuh tahun dikurung di penjara dan rumahnya.

Chen berlindung di kedutaan besar Amerika Serikat di Beijing.

Kepada AFP Chen menceriterakan kisah pelariannya. Dia mempersiapkan beberapa minggu sebelumnya. Pada malam pelariannya, istrinya, mendorong Chen melewati tembok yang dibangun penjaga keamanan di sekitar rumahnya.

Kakinya terkilir saat di jatuh dari atas tembok, kemudian dia bersembunyi di kandang babi milik tetangganya hingga malam tiba.

Perjalanan jauh dan menyakitkan melalui ladang dan sejumlah tembok, akhirnya tiba di rumah sahabatnya.

Chen terkejut kedatangannya di kedutaan besar Amerika Serikat di Beijing, memicu kontroversi dan perhatian internasional dan mengancam hubungan kedua negara.

Setelah melalui negosiasi alot, kedua belah pihak setuju Chen dirawat di rumah sakit. Kemudian New York University menawari beasiswa.

Setelah lebih dari dua minggu berada di rumah sakit di Beijing, dengan nasib yang tidak menentu, Chen akhirnya diberitahu pada Sabtu pagi agar bersiap untuk berangkat menuju Amerika Serikat.

"Saya saya di bandara, saya tidak memiliki paspor. Saya tidak tahu kapan akan berangkat. Saya pikir saya akan berangkat ke New York," katanya kepada AFP melalui telepon.

Di bandara, Chen dan keluarganya mendapatkan paspor.

Jiang Tianyong, pengacara dan sahabatnya mengatakan perasaannya campur aduk mengenai kepergian Chen.

"Sepertinya dia agak keberatan untuk pergi dan tidak menganggap itu solusi maksimal, meskipun itu adalah pilihan terbaik dari segi keamanan diri dan keluarganya," kata Jiang.

Chen dikenal sebagai aktivis China yang menentang kebijakkan satu keluarga satu anak. Chen melakukan investigasi mengenai sterilisasi paksa dan aborsi.

Politisi Amerika Serikat menyambut kedatangan Chen namun juga menyampaikan kekhawatiran mengenai aktivis yang masih berada di China.

Chen berada dalam tahanan rumah selepas dari penjara tempat dia dibui selama empat tahun. Dia kabur dari rumahnya yang dijaga aparat pada 22 April.

Dalam video yang diunggah di Internet dan ditujukan kepada Presiden Wen Jiabao, Chen mengatakan dirinya dipukuli dan disiksa. Dia mengkhawatirkan keselamatan istri dan anaknya.

Di New York University, Chen akan menjadi peneliti, bekerja dengan pakar hukum lainnya.

Penulis: