Foto yang dirilis tanggal 10 Maret 2012 oleh kantor berita KCNA, menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tengah dikelilingi perempuan di Cho Islet, sekitar 70 kilometer sebelah barat Pyongyang
Indonesia mempunyai hubungan diplomatik yang baik dengan Korea Utara

Indonesia dapat menggunakan posisinya sebagai salah satu negara paling berpengaruh di ASEAN, untuk lebih terlibat dalam upaya perdamaian di Semenanjung Korea, dengan menjadi pengamat dalam kelompok multilateral Perundingan Enam Pihak atau Six Part Talk.

“ASEAN dan Indonesia dapat menjadi pengamat dalam Six Party Talk karena Indonesia mempunyai reputasi baik dalam menciptakana perdamaian di kawasan,” ujar Edy Prasetyono, wakil dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dalam perbincangan di "2012 Forum on Peace and Security on The Korean Peninsula: Challenges and Ways Forward" hari Senin (28/5).

Six Party Talks adalah forum yang membicarakan isu nuklir di Korea Utara, dan terdiri dari enam negara yaitu Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Rusia, China dan Jepang.

Edy mengambil contoh yang dilakukan Indonesia dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2011, yang berhasil mendorong terjadinya proses demokratisasi, di negara yang sebelumnya dikuasai oleh junta militer tersebut.

Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cornelis Luhulima, juga mendukung ide tersebut, dan mengatakan ASEAN seharusnya dapat diundang, untuk berpartisipasi sebagai pengamat dalam kelompok multilateral Six Part Talks.

“Namun harus dipahami juga bahwa Korea Utara tidak sama dengan Myanmar. Tidak ada konteks regional dalam kasus Korea Utara, yang bisa mendorong Korea Utara menyesuaikan diri dengan desain regional seperti Myanmar ke ASEAN,” ujar Cornelis.

Indonesia mempunyai hubungan diplomatik yang baik dengan Korea Utara.

Hubungan itu belum lama ini ditandai dengan kunjungan Presiden Presidium Majelis Rakyat Tinggi Korea Utara, Kim Yong-nam ke Indonesia pada 13-16 Mei 2012.

Penulis: