Sengketa 70 Tahun Kurril, Putin Tawarkan Jepang Perdamaian

Sengketa 70 Tahun Kurril, Putin Tawarkan Jepang Perdamaian
Presiden Rusia, Vladimir Putin ( Foto: AFP/Alexander Zemlianichenko )
Jeanny Aipassa / WIR Jumat, 14 September 2018 | 09:38 WIB

Moskwa - Presiden Rusia, Vladimir Putin, menawarkan kepada Jepang untuk menandatangani perjanjian damai terkait sengketa empat pulau di Kuril, pada tahun ini. Putin bahkan mengajak Jepang untuk mengakhiri permusuhan sejak Perang Dunia II “tanpa syarat”.

Pernyataan Putin tersebut disampaikan pada Rabu (12/9), atau dua hari setelah Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, menyarankan kedua pihak mengakhiri perseteruan teritorial yang telah berlangsung selama 70 tahun.

“Kami telah mencoba menyelesaikan sengketa wilayah selama 70 tahun. Kami telah mengadakan pembicaraan selama 70 tahun. Shinzo berkata, Ayo ubah pendekatan kita. Mari kita akhiri perjanjian damai, tidak sekarang, tetapi pada akhir tahun tanpa prasyarat apa pun,” kata Putin, dalam pidato di Forum Ekonomi Timur, di Kota Vladivostok, Rusia, yang juga dihadiri Abe. Para hadirin menyambut pernyataan Putin dengan tepuk tangan meriah.

Putin mengatakan, kesimpulan dari kesepakatan seperti itu akan menciptakan suasana yang lebih baik dan memungkinkan Rusia dan Jepang untuk terus bekerja sama memecahkan semua masalah yang luar biasa, seperti yang biasa dilakukan sahabat.

"Tampaknya bagi saya, ini adalah kesempatan untuk memfasilitasi solusi dari semua masalah yang belum dapat kami selesaikan selama 70 tahun terakhir,” ujar Putin.

Tidak Mudah

Menanggapi pernyataan Putin, Abe mengungkapkan, kedua negara menyadari bahwa mencapai kesepakatan damai tidak akan mudah, namun mereka memiliki tugas menyelesaikan sengketa untuk kepentingan generasi mendatang.

“Mari kita berjalan bersama-sama memikirkan pertanyaan, jika kita tidak melakukannya sekarang, lalu kapan? Dan jika kita tidak melakukannya, lalu siapa yang akan melakukannya. Kami berdua sepenuhnya sadar bahwa itu tidak akan mudah," ujar Abe.

Jurubicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan kedua pemimpin belum membahas proposal Putin. Sedangkan Juru Bicara Pemerintah Jepang, Yoshihide Suga, mengatakan sikap negara itu tidak berubah, namun membuka diri pada perundingan yang menguntungkan kedua pihak.

Perselisihan antara Rusia dan Jepang berpusat pada empat pulau di rantai Kuril yang strategis dan strategis yang diduduki Uni Soviet pada akhir Perang Dunia II pada 1945, tetapi kawasan itu juga diklaim oleh Jepang.

Kedua pihak telah beberapa kali melakukan perundingan damai, namun tak mencapai kesepakatan terkait pembagian batas teritorial dari pulau-pulau tersebut. Hal itu menimbulkan ketegangan hubungan antara Rusia dan Jepang.

Pada tahun ini, Rusia memblokir kunjungan walikota Hokkaido ke pulau-pulau Kuril yang disengketakan. Sebaliknya, Jepang meminta Rusia untuk mengurangi aktivitas militer di kepulauan tersebut.

Suga mengatakan Jepang menginginkan kedua pihak mencapai kesepakatan dan menandatangani perjanjian damai. Namun perjanjian dengan Rusia akan ditandatangani setelah kedua pihak menyelesaikan masalah terkait empat pulau yang disengketakan.



Sumber: Suara Pembaruan