Bank Dunia Berfokus pada Tiga Isu Utama, Termasuk Fintech

Bank Dunia Berfokus pada Tiga Isu Utama, Termasuk Fintech
Konferensi pers bersama Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua Bali, Senin (8/10) ( Foto: Investor Daily / Nasori )
Nasori / NAS Minggu, 14 Oktober 2018 | 09:33 WIB

Nusa Dua, Bali – Komite Pembangunan (Development Committee) Bank Dunia menggarisbawahi tiga isu utama dalam pertemuan mereka di Bali, Sabtu (13/10). Ketiganya berkaitan dengan ekonomi global, human capital, dan pengembangan teknologi keuangan atau fintech.

Pertemuan yang digelar dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, 8-14 Oktober itu berpandangan, pertumbuhan ekonomi global dinilai tetap kuat, namun masih terdapat ketidakseimbangan saat pertumbuhan perdagangan dan sektor manufaktur cenderung moderat.

“Risiko penurunan (downside risk) terhadap pertumbuhan global telah meningkat karena berbagai alasan, termasuk ketidakpastian kebijakan, perkembangan geopolitik, pengetatan pembiayaan global, serta tingkat utang dan volatilitas mata uang yang meningkat,” ujar Komite Pembangunan Bank Dunia dalam rilis komunikenya pada hari yang sama.

Komite yang saat ini dipimpin Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ini juga menggarisbawahi peran penting dari perdagangan internasional untuk pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pembangunan berkelanjutan.

Kepada negara-negara anggota, komite menegaskan dukungan dari Bank Dunia dan IMF untuk mengimplementasikan kebijakan yang memastikan penguatan dan pertumbuhan ekonomi inklusif, mengurangi risiko, dan mempromosikan daya saing serta memperkuat ketahanan fiskal yang berkelanjutan pada saat yang sama.

Komite juga tetap memberi perhatian pada tingkat kerentanan akan risiko utang (vulnerabilities debt) yang meningkat pada beberapa negara berkembang dan negara berpenghasilan rendah. Pasalnya hal itu berisiko membalikkan manfaat dari inisiatif penanggulangan utang sebelumnya.

Untuk mengatasi situasi ini, menurut Komite, dibutuhkan kerangka kerja kebijakan yang solid, kecukupan fiskal, dukungan pihak luar, dan praktik pinjaman yang berkelanjutan dan transparan.

Komite meminta Grup Bank Dunia dan IMF membantu negara-negara anggota memperkuat posisi fiskal mereka dengan mengembangkan kapasitas manajemen utang, meningkatkan mobilisasi sumber daya domestik, dan mengembangkan pasar modal di tingkat lokal.

Human Capital
Terkait human capital, komite memberi perhatian besar pada masalah ini, khususnya yang berimplikasi pada kemajuan teknologi, keuangan, dan aspek pembangunan lainnya. “Kami mendukung Human Capital Project (HCP) serta peluncuran Human Capital Index (HCI) dengan program-program pendukung dari negara-negara yang terlibat,” tulis Komite.

Menurut Komite, itu merupakan platform yang dapat mendukung investasi sistem kesehatan dan pendidikan nasional maupun global jangka panjang, membantu negara-negara tersebut mengantisipasi masa depan ekonomi yang akan bertransformasi karena perubahan teknologi.

Komite Pembangunan Bank Dunia juga menyambut positif pengembangan agenda Bali Fintech oleh WBG-IMF. Komite menilai lembaga-lembaga yang terlibat harus memanfaatkan potensi fintech untuk memperdalam pasar keuangan, meningkatkan akses dan tanggung jawab terhadap layanan keuangan, memfasilitasi pembayaran lintas batas, memperkuat sistem remitansi, dan juga harus bisa mengelola risiko pada pengguna teknologi ini.

“Pengembangan fintech hendaknya difokuskan pada negara-negara berpenghasilan rendah, negara-negara kecil, dan komunitas terpinggirkan, terutama untuk menutup kesenjangan yang sering dialami perempuan dan UKM dalam akses pembiayaan,” tanda Komite.

Pada pertemuan itu, Komite Pembangunan Bank Dunia menetapkan ketua baru yaitu MKen Ofori-Atta, menteri keuangan Ghana, menggantikan Sri Mulyani. Sementara pertemuan Komite Pembangunan selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Washington DC, 13 April 2019 mendatang.



Sumber: Investor Daily
CLOSE