Ilustrasi air yang tercemar.
Wabah yang menyebar sejak Minggu (19/8) itu telah menelan korban 4.179 orang.

Jumlah orang yang dirawat di rumah sakit karena keracunan setelah mereka minum air tercemar di Desa Sansafat di Gubernuran Menoufia di Mesir, telah mencapai 175 orang.

Demikian keterangan yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Mesir, Kamis (23/8) waktu setempat.
 
Kepala Bagian Obat Pencegah di Kementerian Kesehatan, Amr Qandil mengatakan, dari 175 orang tersebut, 41 di antaranya dibawa ke rumah sakit pada Kamis. Meski demikian, lanjut dia, tak seorang pun berada dalam kondisi gawat.

Sementara, kantor berita resmi Mesir, MENA melaporkan, bahwa jumlah kasus yang tercatat sejak wabah itu menyebar pada Ahad (20/8), hari pertama Idul Fitri, telah mencapai 4.179 orang. 

Beranjak dari kondisi itulah Menteri Kesehatan Mesir, Mohamed Moustafa, memerintahkan pemeriksaan air di desa yang terpengaruh setiap dua jam dan menutup semua tempat penyaluran air tanpa izin atau pribadi.

"Setiap orang yang didapati bersalah dalam kasus itu akan dikenakan sanksi sesuai hukum," katanya.

Menteri tersebut juga mengunjungi rumah sakit tempat para korban menjalani perawan medis. Keluarga korban yang marah memperlihatkan kepada menteri itu sebotol air berlumpur.

Menurut Amr, analisis awal memperlihatkan air tercemar tersebut belum dijernihkan dengan menggunakan klorin dan 90 persen orang yang keracunan memperoleh air dari sumber sah di pemerintah. Hasil akhir direncanakan diumumkan pada Sabtu atau Ahad.

Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan, Yasser Ali mengatakan satu tim pemerintah telah dibentuk guna menangani krisis air tercemar tersebut di Gubernuran Menoufia.

"Kemerosotan prasarana adalah alasan di balik krisis tersebut," kata Ali. Ia menambahkan, bahwa beberapa jaringan air tercampur dengan jaringan air kotor di Menoufia.

Penulis: /SES