Jika dirunut ke belakang, konflik dua bangsa itu sudah terjadi di jaman para nabi, yang digambarkan dalam kisah Daud melawan Goliat.

Pada awalnya, kedatangan imigran Yahudi ke Palestina tidak menimbulkan masalah. Tetapi, kebutuhan tanah untuk para imigran Yahudi yang terus berdatangan membuat adanya konflik dan sengketa wilayah, yang berlangsung hingga kini.

Konflik antara Palestina dan Israel, sejatinya telah memasuki babak baru, setelah PBB mengakui Palestina sebagai negara, bukan sekadar anggota di PBB.

Namun, AS dan Israel yang menolak putusan PBB, menjadikan upaya perdamaian seakan buntu. Apalagi, kedua negara itu memastikan bahwa putusan PBB tidak akan mengubah kondisi Palestina, seperti sediakala. Dan yang pasti, pernyataan AS dan Israel justru menambah panjang sejarah konflik antara Palestina dan Israel.

Konflik antara Palestina dan Israel, tak ubahnya seperti membaca buku sejarah yang panjang. Bahkan, jika dirunut ke belakang, konflik dua bangsa itu sudah terjadi di jaman para nabi, yang digambarkan dalam kisah Daud melawan Goliat.

Goliat disebutkan sebagai perwakilan bangsa Filistin, yang kemungkinan besar adalah nama kuno bagi Palestina. Jadi bisa dibayangkan betapa kunonya polemik yang melanda dua bangsa tersebut.

Tetapi, jika berbicara soal konflik modern, polemik Israel-Palestina terjadi pada akhir abad ke-19. Tepatnya, sebelum dimulainya perang dunia kesatu.

Saat itu, Timur Tengah sendiri merupakan wilayah kekuasaan Ottoman Turki, selama lebih dari 400 tahun. Dan, menjelang pergantian abad, Palestina atau saat itu disebut Suriah Selatan dipecah menjadi Provinsi Suriah, Beirut, dan Yerusalem oleh penguasa Ottoman. Wilayah-wilayah itu didominasi oleh warga Arab Muslim, dengan sedikit penduduk Kristen Arab, Druz, Sikrkasian dan Yahudi.

Warga Yahudi sendiri justru banyak tersebar di Eropa Tengah dan Eropa Timur. Namun, kerinduan akan kembali ke Zion atau tanah yang disucikan Tuhan, membuat mereka hijrah ke wilayah Palestina. Saat itu, mereka tersebar dalam kelompok-kelompok kecil.

Niat mendirikan negara Yahudi pun muncul sekitar 1859-1880, ketika gelombang anti-semit mulai melanda Eropa dan Rusia, terutama akibat peristiwa Holocaust (pembunuhan terhadap bangsa Yahudi), yang diprakasai Nazi Jerman. 

Hal itulah yang memicu terbentuknya gerakan Zionisme pada 1987. Gerakan yang didukung oleh dana nasional Yahudi itu, kemudian mendanai pembelian tanah di Palestina untuk pembangunan pemukiman imigran Yahudi.

Pada awalnya, kedatangan imigran Yahudi ke Palestina tidak menimbulkan masalah. Tetapi, kebutuhan tanah untuk para imigran Yahudi yang terus berdatangan membuat adanya konflik dan sengketa wilayah, yang berlangsung hingga kini.

Penulis: