Ilustrasi militer Korea Utara.

Daya ledaknya hampir setengah dari bom yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima pada 1945.


Washington – Korea Utara (Korut) menyatakan telah melakukan tes nuklir yang ketiga seperti diberitakan kantor berita pemerintah KCNA, Selasa (12/2).

KCNA mengatakan ujicoba tersebut menggunakan “perangkat nuklir miniatur dan lebih ringan namun dengan daya ledak yang lebih besar dari yang sebelumnya” dan “tidak menimbulkan dampak negatif pada lingkungan ekologi di sekelilingnya.”

Ujicoba ini segera mengundang kecaman dari masyarakat internasional. Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebutnya sebagai “tindakan yang sangat provokatif” dan menuntut “aksi yang cepat dan kredibel dari masyarakat internasional” terhadap Korut.

Negara-negara lain seperti Rusia, Inggris, Korea Selatan (Korsel) dan bahkan PBB juga segera mengecam tes ledakan itu. Dewan Keamanan PBB telah menjadwalkan pertemuan darurat pada pukul 9:00 pagi hari ini waktu New York terkait masalah itu.

Estimasi awal dari otoritas di Korsel menyebutkan tes yang baru saja dilakukan Korut memang memiliki daya ledak lebih kuat dari dua ujicoba sebelumnya.

Kim Min-seok, juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, mengatakan tes itu menghasilkan daya ledak antara enam dan tujuh kiloton, jauh lebih kuat daripada yang terdekteksi pada 2006 sebesar satu kiloton dan pada 2009 sebesar dua sampai enam kiloton.

Namun bom nuklir itu kekuatannya lebih rendah dari bom pertama yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima, Jepang, pada 1945, yang memiliki daya ledak 15 kiloton.

Ujicoba oleh Korut ini dilakukan di bawah pemimpin baru Kim Jong-un dan seperti mengacuhkan desakan sekutu paling dekatnya, China, yang meminta pemimpin muda itu untuk menghindari konfrontasi dengan tidak meledakkan bom.

Dalam pernyataan beberapa jam setelah ledakan, China mengungkapkan sikap menentang atas tes tersebut namun menyerukan pada semua pihak agar “merespon dengan sikap tenang.” Belum jelas bagaimana sikap China nanti di pertemuan Dewan Keamanan PBB.

Tes tersebut dilakukan menjelang pidato kenegaraan Obama yang berencana menyerukan pengurangan secara drastis senjata nuklir di seluruh dunia, dan Amerika sendiri akan memangkas jumlah hulu ledak nuklirnya dari 1.700 menjadi 1.000.

Bahkan sebelum ujicoba dilakukan hari ini, pemerintahan Obama sudah mengancam mendesakkan sanksi tambahan lewat PBB. Namun faktanya, tinggal sedikit jenis sanksi yang tersisa bagi negara Asia yang paling sulit diprediksi ini.

Satu-satunya penalti yang akan membuat Korut sangat menderita adalah penghentian pasokan minyak dan bantuan lain dari China. Dan sampai sekarang, pihak China lebih takut pada terjadinya kekacauan dan instabilitas di Korut daripada kemampuan nuklir mitranya itu, dan para pemimpin China telah menolak terlibat dalam pemberian sanksi.

Penulis: Heru Andriyanto/HA

Sumber:The New York Times