Ilustrasi pekerja seks komersial.

Enam perempuan Malaysia yang menggunakan visa pelajar ke Australia dipaksa menjadi pekerja seks.


Kuala Lumpur - Meskipun menuai kecaman nasional dan tuntutan penjelasan secara terbuka, para aktivis mengatakan pemerintah Malaysia hingga saat ini belum memberikan jawaban mengapa dan bagaimana enam pelajar Malaysia bisa menjadi pekerja seks di Australia.

Kantor Perdana Menteri Malaysia tidak memberikan komentar saat Bikyanews meminta penjelasan. Mereka hanya mengatakan hal itu masih dalam pembicaraan dengan pemerintah Australia.

Para aktivis perempuan di Malaysia mendesak adanya jawaban setelah enam murid perempuan yang berangkat ke Australia menggunakan visa pelajar diduga dipaksa melakukan hubungan seks sebagai bayaran izin visa mereka.

Berbagai laporan itu mencuat bahwa enam murid tersebut diharuskan bekerja sebagai pekerja seks di Australia untuk membayar utang.

"Ini menjijikkan dan kita mendesak pemerintah untuk mengambil aksi nyata terhadap Australia untuk memastikan anak-anak muda kita dilindungi saat mereka bepergian ke luar negeri," kata seorang aktivis sosial di Kuala Lumpur, Amina Yussif.

"Kita sudah memiliki masalah perdagangan seks di dalam negeri, dan jika aksi ini kekerasan ini terus dipaksakan kepada anak-anak perempuan kita, hal itu sangat hina dan membuat luka atas hubungan yang kita miliki dengan Australia," katanya.

Berdasarkan berbagai laporan, wanita yang dituduh memiliki rumah pelacuran di Sydney bernama Chee Mei Wong (37)  berkata kepada para perempuan yang ditahannya untuk melakukan layanan seks karena mereka harus membayar segala utang untuk bisa berangkat ke Australia.

Namun, Wong mengaku tak bersalah atas pelayanan seksual yang dituduhkan kepadanya dan atas pelanggaran visa kepada enam orang, termasuk mengeksploitasi pekerja.

Dalam pembukaan sidang di pengadilan wilayah di Sydney, Wong diduga menjalankan bisnis pelacuran Diamonds di Willoughby, Sydney, Australia antara Agustus 2008 dan 2010.

Wong juga dikenal dengan nama Yoko. Ia diduga mempekerjakan enam perempuan keturunan India yang direkrut di Malaysia.

Sayangnya, ini bukanlah kasus pertama di mana perempuan Malaysia dipaksa melakukan perdagangan seks saat berada di luar negeri.

"Kami melihat banyak perempuan keturunan China yang dipaksa membuat film seks dan bekerja sebagai pekerja seks di Malaysia karena permintaan semakin tinggi," kata pekerja sosial Usmanah Mahammad, yang saat ini bekerja bersama mantan pekerja seks di Kuala Lumpur.

Dia mengatakan kasus terbaru yang terkuak seperti tempat persembunyian di Ipoh dan tempat lainnya menunjukkan tanda bahwa fenomena seks bayaran saat ini makin meningkat.

Kepolisian telah merespons dan merazia tempat perdaganan seks di Ipoh, Malaysia, di mana polisi mengonfirmasi informasi detail mengerikan yang terjadi di dalamnya.

Menurut laporan kepolisian, para pengunjung dapat memilih perempuan untuk melakukan hubungan seks dengan mereka.

Penulis: Febriamy Hutapea/FEB

Sumber:Bikyanews