Buruh angkut membawa karung yang berisi bawang putih di pasar grosir Ngronggo Kota Kediri, Jawa Timur.

Jakarta - Melambungnya harga bawang merah dan bawang putih dalam dua pekan terakhir membuat ibu-ibu rumah tangga menjerit. Akibatnya komsumsi bawang dibatasi dalam keperluan sehari-hari.

"Gak tahu nih. Bawang merah dan bawang putih melambung naik. Biasanya hanya sekitar Rp 14.000 per kilo kini sampai Rp 40.000. Enggak usah makan bawang dululah kalau seperti ini terus," ujar Ny Agnes (32), ibu rumah tangga saat ditemui Beritasatu di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (12/3).

Menurut ibu dua anak itu, harga bawang lebih mahal daripada daging. Naiknya harga bawang tidak pernah disangka seperti sekarang ini.

"Biasanya kalau naik paling Rp 2.000 per kilonya. Sekarang naiknya tiga kali lipat," ucapnya.

Ketua Sentra Pemberdayaan Masyarakat Yudi Syamhudi mengatakan, kenaikan harga ini sangat tidak menguntungkan petani dan konsumen. Petani jadi lamban perputaran perdagangan dari produksinya karena daya beli masyarakat lemah.

"Akhirnya petani kesulitan tanam kembali. Kondisi ini membuka kesempatan importir menguasai pasar kita. Bahkan banyak terjadi penyelundupan. Dan pemerintah memberikan kemudahan atas impor bawang merah," katanya.

Dia meminta pemerintah melakukan nasionalisasi harga dan regulasi. Namun dia pesismistis pemerintah mampu menakan harga bawang ini.

Saat ini bawang merah mencapai harga 28.000 per kg,ini diperkirakan akan terus menanjak. Begitu juga bawang putih import menanjak hingga 50.000 per Kg.

"Harusnya pemerintah melakukan nasionalisasi harga. Bisa dengan subsidi atau langsung mengintervensi harga komoditi yang sangat fundamental ini," tegasnya.

Suara Pembaruan

Penulis: H-14/FMB

Sumber:Suara Pembaruan