Ratusan karyawan Airbus berpose di depan contoh pesawat Airbus yang dipesan Lion Air, di Bandara Toulouse, Prancis, Senin (18/3) sore. Lion Air telah menandatangani kontrak pemesanan 234 unit pesawat Airbus A320 dan A321.

Jakarta – Lion Grup yang merupakan maskapai terbesar di Indonesia, dengan jumlah pesawat saat ini di atas 100 unit, akan tetap mengutamakan bisnisnya di Indonesia. Hal ini terlihat dari fokusnya untuk membangun MRO (Maintenance, Repair and Operation) di Batam.

Direktur Umum Lion Mentari Airlines Edward Sirait menuturkan bahwa saat ini pihaknya masih tetap fokus untuk membangun MRO atau hanggar di Batam, yang pembangunannya sudah dilakukan sejak tahun lalu. "Pada Juni nanti, hanggar seluas 4 hektar yang sedang dalam tahap penyelesaian tersebut akan selesai. Setelah 4 hektar selesai, kita langsung akan proses yang 12 hektar lagi," ujarnya kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (26/3).

Adanya pembangunan MRO di Batam, sekaligus membantah kabar yang mengatakan Lion Grup akan meninggalkan tanah air dan membangun hanggar di Johor Bahru, Malaysia.

Edo, sapaannya, mengakui bahwa dulu Lion Grup pernah menjajaki Johor Bahru untuk dijadikan hanggar, dan itu dilakukan sebelum mendapat lokasi di Batam. “Tetapi seiring dengan perjalanan waktu dan setelah kita pelajari lagi, ada alternatif di Batam dan kita ambil di Batam,” tambah Edo yang masih belum mau menyebutkan nilai investasinya.

Untuk pembangunan hanggar, tambahnya belum bisa dikatakan berapa investasinya karena itu semua tergantung dari capability subject to kesediaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ahlinya. Edo menggambarkan, kalau capabilitymau dibuat sampai level A dan ternyata SDM belum punya maka itu akan sulit. Sehingga, untuk investasi semua tergantung dari capability sampai level apa. Semakin tinggi levelnya maka investasinya akan semakin banyak.

“Pergerakan investasi untuk MRO itu sangat tergantung kepada level capability yang diinginkan. Kita juga harus mempertimbangkan bagaimana sertifikasinya, jangan kita bangun bengkel dan tidak disertifikasi, siapa yang mau pakai?” pungkasnya.

Nantinya, untuk hanggar di Batam, disiapkan untuk menampung 16 pesawat narrow body dock in (pesawat yang parkir).

Dengan dibangun hanggar Lion Grup di Batam, Edo menuturkan bukan berarti peluang untuk bandara Juanda, Surabaya dan bandara Sam Ratulangi, Manado sebagai hanggar tertutup. “Selama masalah legalitasnya kita belum mendapatkan yang mendukung pelaksanaan investasi kita ya kita tidak mungkin menginvestasikan sesuatu yang berjangka panjang dan bernilai besar di tempat yang belum ada kepastian,” imbuhnya.

Edo menambahkan bahwa Lion Grup akan berusaha untuk membangun industri avionik di Indonesia, dimana pun tempatnya selama Lion Grup bisa mendapatkan legalitas dan kepastian hukum.

Sedangkan untuk pembangunan hanggar di Batam, Lion Grup akan menggunakannya selama 25 tahun. Dan setelah 25 tahun masih dimungkinkan untuk diperpanjang karena pihak Otorita Batam memiliki aturan yang mendukung untuk itu.

Investor Daily

Penulis: KEY

Sumber:Investor Daily