Pekerja memasang bor sebagai reaktivasi pembuatan sumur penggalian minyak bumi.

Jakarta - Total E&P Indonesie menegaskan tetap berinvestasi di Indonesia meski pemerintah tidak memperpanjang kontrak pengelolaan Blok Mahakam, Kalimantan Timur yang berakhir pada tahun 2017 nanti.

"Kami tetap berkomitmen investasi di Indonesia. Kami punya 15 aset di Indonesia," kata Head Development Media Relation Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi di Jakarta, Kamis (4/4).

Kristanto menjelaskan investasi pada tahun ini di Blok Mahakam mencapai US$2,5 miliar lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang sebesar US$2,3 miliar.

Menurutnya penambahan nilai investasi itu lantaran sumur di Blok Mahakam sudah tua dan banyak mengandung pasir dan gas Co2 sehingga membutuhkan teknologi tinggi untuk mempertahankan produksi.

Dia mengungkapkan produksi minyak dan gas di blok ini per tanggal 14 Maret 2013, produksi minyak mencapai 69.000 bph atau 100 persen dibanding target WP&B 2013. Sementara itu produksi gas sebesar 1.780 mmscfd atau 112 persen dari target sebesar 1.577 mmscfd.

Sedangkan tahun 2012, rata-rata produksi minyak adalah 65.900 bph atau 93 persen dari target WP&B sebesar 70.800 bph, dan produksi gas sebesar 1.773 mmscfd atau 88 persen dari target 2.020 mmscfd.

Mengenai kontrak Blok Mahakam yang akan segera berakhir, Kristanto mengatakan perusahaan asal Perancis ini siap bekerja sama dengan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) nasional. Oleh sebab itu dia menuturkan Total sudah menyampaikan opsi pengelolaan Blok Mahakam ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berupa masa transisi selama tahun pasca berakhirnya kontrak.

"Participasing Interest-nya terserah pemerintah. Kami tunggu keputusan pemerintah saja," ujarnya.

Lebih lanjut Kristanto mengungkapkan Total melakukan pengembangan aset di Blok Mentawai dan di Papua Barat, Sorong. Investasi Blok Mentawai untuk tiga tahun pertama sebesar Rp 400 miliar. Sedangkan investasi sumur eksplorasi yang berada di Papua Barat pada tahun pertama sebesar US$ 40 juta atau sekira Rp 380 miliar.

"Walaupun belum tahu potensi minyak dan gas bumi di sana. Tapi kami yakin ada potensi migas," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera memutuskan dan membuat pernyataan resmi bahwa sejak 2017 Pemerintah akan menyerahkan pengelolaan Blok Mahakam kepada perusahaan milik negara, Pertamina.

"IRESS mengingatkan bahwa keputusan tentang kontrak Blok Mahakam merupakan masalah yang mudah untuk ditetapkan tanpa banyak perdebatan," katanya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik sebelumnya meminta Pertamina untuk memaparkan mengenai kemampuan teknologi, keuangan serta sumber daya manusia kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan dan kepada dirinya terkait pengelolaan Blok Mahakam.

Namun Jero menegaskan pemerintah belum memutuskan opsi yang terbaik dalam mengelola Blok Mahakam, apakah masih akan dipegang oleh Total E&P Indonesie dan perusahaan gas asal Jepang Inpex Corp atau sepenuhnya dikelola Pertamia atau diantara keduanya. Atau opsi lain berupa masa transisi bagi Pertamina untuk dapat sepenuhnya kuasai Blok Mahakam.

Jero kemudian menganalogikan hubungan Indonesia dengan Total seperti pasangan suami istri yang sudah menikah selama 50 tahun. Oleh sebab itu pihak Total dan Inpex akan ikut dilibatkan dalam pembahasan masalah kontrak Blok Mahakam.

"Saya pasti mengutamakan negeri saya. Tidak mengutamakan Total atau Inpex dan saya tidak mau dibayar untuk itu. Jadi jangan kuatirlah. Lihat nanti mana yang lebih baik bagi negeri, saya akan setujui," katanya.

Penulis: Rangga Prakoso/YUD