Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhamad Hatta

Surabaya - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) mengajak perwakilan negara-negara peserta Forum SOM II APEC di Surabaya untuk bekerjasama mengembangkan teknologi energi panas bumi agar bisa secepatnya menggantikan bahan bakar minyak (BBM).

Menteri Riset dan Tehnologi, Gusti Muhammad Hatta mengatakan salah satu negara yang kini sudah memanfaatkan kerjasama bidang pengembangan energi panas bumi adalah Jerman, seperti yang ada di Sulawesi Utara dan Jawa Barat.

"Kita baru memanfaatkan 1-2 persen saja dari potensi saat ini, padahal kita mempunyai 40 persen potensi dunia, dan lebih ramah lingkungan. Seharusnya energi ini sekarang sudah dimanfaatkan, karena BBM 15 tahun lagi akan habis,” ujarnya saat membuka APEC SOM II "Policy Partnershio on Science Technology and Innovation (PPSTI) di Surabaya, Selasa (9/4).

Dia mengemukakan, Kemristek sudah lama mengembangkan teknologi di bidang pengembangan energi panas bumi ini. Tapi untuk tahun 2013, pengembangannya akan dititikberatkan pada peningkatan intensitas. ‘’Dan semua sudah dicoba, habis ini kita akan meninjau energi arus laut," tandasnya.

Selain bidang energi, kerjasama dengan berbagai negara juga dilakukan dalam bidang pertanian dan ketahanan pangan, kesehatan dan obat, ICT, transportasi, pertahanan dan teknologi yang termasuk tujuh fokus yang diprioritaskan. "Tujuh fokus itu yang kita tawarkan," papar dia.

Namun demikian, Hatta menggarisbawahi bahwa Indonesia menginginkan agar kerjasama berbagai bidang dengan berbagai negara itu tidak sebatas hanya melakukan impor sumber daya, melainkan juga transfer teknologi maupun pengetahuan.

“Kalau kerjasama dengan Indonesia tidak hanya impor sumber daya, saya tidak mau, tapi transfer of knowledge, kalau perlu kita memproduk bersama suatu barang," tegasnya.

Dia menambahkan, kemampuan Indonesia dalam teknologi saat ini mulai meningkat. "Kita negara berbasis inovasi. Dengan adanya PPSTI, target itu bisa terealisasi," ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, transfer pengetahuan dari negara maju sangat dibutuhkan bagi negara berkembang seperti Indonesia. "Kita punya peran yang sama di dunia internasional," katanya.

Hatta memberikan definisi teknologi yakni untuk meningkatkan produktivitas, pelayanan, perlindungan dan pertahanan. "Negara kita merupakan daerah tsunami, untuk mengurangi dampak itu kita harus sejajar dengan mereka," ungkapnya.

Investor Daily

Penulis: ROS/WBP

Sumber:Investor Daily