CEO Lion Air, Rusdi Kirana (tengah) disambut ratusan karyawan Airbus dengan latar model pesawat A320 Lion Air, di Blagnac International Airport, Toulouse, Prancis.

Jakarta - Pasca terjadinya kecelakaan pesawat Lion Air Sabtu (13/4) lalu, meskipun tidak terjadi korban jiwa namun para pakar penerbangan memperingatkan ekspansi luar biasa yang dilakukan Lion Air bisa berpotensi mengkompromikan faktor keselamatan di sisi lain.

Dunia penerbangan di Indonesia tengah menghadapi bom waktu: jumlah kru penerbangan berpengalaman yang terbatas harus mengimbangi perkembangan pesat maskapai penerbangan.

Lion Air adalah maskapai kecil tak dikenal yang memulai bisnis 13 tahun silam dengan bermodalkan satu pesawat saja, namun sekarang mampu membuat dua raksasa produsen pesawat Boeing dan Airbus ternganga dengan order pembelian yang memecahkan rekor senilai total US$$ 46 miliar (Rp 447 triliun).

Bulan lalu Airbus menerima order 234 unit pesawat medium A320 senilai US$ 23,8 miliar (Rp 231,3 trilun). Sebelumnya Lion Air juga mengejutkan dunia dengan kesepakatan senilai US$ 22,4 miliar (Rp 217,7 triliun) untuk membeli 230 pesawat Boeing 737, yang diteken di Bali pada 2011 dengan disaksikan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Lion Air, Boeing dan Airbus sepakat dengan pertaruhan itu berdasarkan pertumbuhan pesat penumpang udara di Indonesia sekitar 20 persen per tahun sekarang ini.

Dengan penduduk paling padat keempat di dunia dan wilayah dengan 17.000 pulau lebih, Indonesia sangat mengandalkan transportasi udara.

"Saya mempertanyakan apakah pertumbuhan pesat Lion Air akan meningkatkan risiko keselamatan," kata Daniel Tsang, analis di perusahaan konsultan Hong Kong, Aspire Aviation, seperti dikutip News.com.au.

"Ketika sebuah maskapai terlalu fokus pada pertumbuhan dan terlalu mengejar penghematan biaya, maka faktor keselamatan mungkin dikompromikan."

Tom Ballantyne, penulis senior di Orient Aviation, menambahkan: "Selalu ada bahayanya dalam ekspansi yang cepat. Para maskapai harus berhati-hati ketika mereka tumbuh dengan sangat kencang dan Lion Air mutlak harus memastikan sistem keselamatan mereka juga membaik secepat pertumbuhan armadanya."

Sebelum peristiwa hari Sabtu, Lion Air juga telah mengalami serangkaian kecelakaan antara 2004 dan 2006.

Yang paling buruk terjadi pada Desember 2004 di mana setidaknya 26 orang tewas ketika sebuah pesawat Lion Air tergelincir di landasan Bandara Adi Soemarmo, Solo ketika terjadi hujan lebat.

Pucuk Gunung Es
Pakar penerbangan Wawan Mulyawan dari Universitas Indonesia mengatakan pesawat yang terlibat insiden hari Sabtu masih sangat baru sehingga kemungkinan faktor penyebabnya adalah pilot yang kelelahan.

"Kecelakaan kemarin itu bagai pucuk gunung es," kata Wawan. "Jika jumlah pilot tidak naik secepat pertumbuhan jumlah pesawat dan penerbangan, dikhawatirkan kasus-kasus yang lebih buruk bisa terjadi di masa depan. Ini seperti bom waktu."

Dengan pemesanan pesawat barunya, pada 2025 nanti Lion Air akan memiliki lebih dari 600 pesawat dan akan masuk kelompok 10 maskapai terbesar di dunia dari segi armada.

Keselamatan penerbangan telah menjadi masalah utama di Indonesia. Pada 2007, Amerika Serikat menurunkan klasifikasi keselamatan penerbangan Indonesia dan segera setelah itu Uni Eropa menempatkan Indonesia dalam daftar tidak aman untuk terbang, termasuk juga maskapai-maskapai Indonesia.

Desember tahun lalu Uni Eropa mencatat “kemajuan nyata” yang dilakukan Indonesia dalam bidang ini namun pemerintah Indonesia tetap didesak “melanjutkan upaya menuntaskan pekerjaan dalam membentuk sistem penerbangan yang sepenuhnya sesuai dengan standar PBB.”

“Rekam jejak keselamatan di Indonesia sudah makin membaik dengan ditinggalkannya pesawat-pesawat tua, konsolidasi maskapai-maskapai yang lemah dan kehadiran pesawat-pesawat baru,” kata Timothy Ross, kepala pusat penelitian transportasi Asia-Pasifik Credit Suisse.

“Masalah lain di Indonesia adalah melatih pilot sebanyak pesawat baru yang diterima,” kata Ross di Wall Street Journal.

Selain maskapai dan pilot, infrastruktur bandara juga perlu menjadi perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan faktor keselamatan.

“Infrastruktur bandara masih menjadi masalah di Indonesia dan beberapa bandara kecil masih sangat sulit ditangani, khususnya bagi pilot-pilot asing,” kata Siva Govindasamy, editor pelaksana majalah Flight Global.

Namun ditambahkannya bandara di Bali tidak memiliki masalah karena memiliki peralatan yang memadai.

Penulis: Heru Andriyanto/HA

Sumber:news.com.au/ WSJ