Direktur Utama BNI, Gatot Suwondo

Jakarta  – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengaku tidak khawatir dengan dampak dari rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terhadap kondisi makro dan kinerja perbankan. Sebab, dampaknya diperkirakan hanya bersifat temporer atau sementara.

Direktur Utama BNI Gatot Mudiantoro Suwondo menilai, persoalan kenaikan harga BBM sebenarnya merupakan kisah lama dan seharusnya sudah dinaikkan sejak dahulu. Namun, dia mengakui, efek politiknya cukup besar.

“Tapi kami sudah antisipasi. Kalau BBM naik mungkin dampaknya 2-3 bulan, seperti halnya tahun 2006 ketika BBM dinaikan dahulu,” kata Gatot pada Paparan Kinerja Triwulan I-2013 di Gedung BNI, Jakarta, Jumat (26/4).

Menurut dia, jika harga minyak naik, secara rasional memang harga BBM harus naik pula. Sebab itu, yang tidak rasional adalah jika terjadi keributan politik yang tidak rasional terkait harga BBM. Namun, Gatot melihat, saat ini kecenderungannya yaitu bisnis dan politik berjalan sendiri-sendiri.

Direktur Keuangan BNI Yap Tjay Soen mengatakan, ketika kenaikan BBM terjadi pada 2005, sebenarnya dampaknya hampir tidak ada terhadap industri keuangan dan perekonomian secara luas. Saat itu, kata dia, hanya berdampak 3 bulan kemudian selesai.

“Apakah akan terjadi dampak sistemik, rasanya tidak ada, karena pengusaha sudah mengantisipasi semua. Ekonomi kita sudah sangat besar, jadi jangan khawatir soal kenaikan BBM,” tutur Yap.

Wakil Direktur Utama BNI Felia Salim juga menilai kebijakan untuk menaikkan BBM akan membuat penyaluran subsidi akan lebih tepat sasaran. Sebab, jika BBM terus-menerus disubsidi, artinya negara mensubsidi masyarakat berpendapatan menengah ke atas.

Investor Daily

Penulis: GRC/FMB

Sumber:Investor Daily