Pemegang Lisensi Wimax Bisa ke LTE

Pemegang Lisensi Wimax Bisa ke LTE
Ilustrasi world wide web. ( Foto: Freedigitalphotos / Salvatore Vuono )
RZ/RID / AB Kamis, 2 Mei 2013 | 10:23 WIB

Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) akhirnya memberikan peluang kepada pemegang lisensi broadband wireless access (BWA) pada frekuensi 2,3 GHz untuk menggelar jaringan berteknologi generasi keempat (4G) long term evolution (LTE) mulai akhir tahun ini. Sebagai pemegang lisensi BWA, PT First Media Tbk menyambut baik keputusan itu dan siap menggelar LTE.

“Pemegang lisensi di 2,3 GHz bisa lebih dulu mengadopsi LTE. Yang paling memungkinkan itu bisa pakai teknologi TD-LTE. Regulasi untuk LTE ditargetkan terbit akhir tahun ini,” kata Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kemkominfo, Muhammad Budi Setiawan, seusai meresmikan kantor Qualcomm Indonesia di Jakarta, Rabu (1/5).

Pemerintah telah mengeluarkan lisensi BWA pada November 2009. Pada awalnya, para pemegang lisensi BWA diharuskan menggunakan teknologi worldwide interoperability for microwave access (wimax) nomadik atau standar 16d untuk menghadirkan layanan internet berkecepatan tinggi. Setahun kemudian, atas desakan para pemegang lisensi BWA, Kemkominfo mengizinkan penggunaan teknologi wimax mobile (standar 16e). Kini, Kemkominfo mengizinkan pemegang lisensi BWA untuk menggelar jaringan berteknologi LTE.

Ada 30 lisensi BWA yang diberikan pemerintah untuk 15 zona di seluruh Indonesia. Para pemegang lisensi BWA itu terdiri dari delapan perusahaan, yakni PT Berca Hardaya Perkasa memegang 14 lisensi BWA, PT Telekomunikasi Indonesia (5), PT Indosat Mega Media (1), PT First Media Tbk (2), PT Internux (1), PT Jasnita Telekomindo (1), PT Konsorsium Wimax Indonesia (3), dan Konsorsium PT Comtronic System (3).

Dalam perjalanannya, Kemkominfo terpaksa mencabut izin tiga lisensi yang dimiliki PT Internux, Konsorsium WiMax Indonesia, dan Konsorsium PT Comtronix System dan PT Asiwarta Perdania. Tiga operator itu memiliki lisensi BWA di zona Jabodetabek, Jawa Barat (kecuali Bogor, Depok dan Bekasi), Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, Maluku dan Maluku Utara, serta Kepulauan Riau. Bahkan, menurut Budi Setiawan, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) juga telah mengembalikan lisensi BWA-nya kepada pemerintah.

Pada frekuensi 2,3 GHz, Kemkominfo mengalokasikan spektrum sebesar 30 MHz, di mana setiap lisensi BWA mendapat jatah pita sebesar 15 MHz. Dengan demikian, pita yang masih tersisa pada rentang frekuensi 2,3 GHz itu sebanyak 60 Mhz. “Rentang frekuensi yang dikembalikan ke pemerintah sebesar 15 MHz. Ini juga bisa dilelang untuk LTE,” jelasnya.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo Gatot S Dewa Broto pernah mengungkapkan rencana Kemkominfo menggelar tender lisensi BWA pada zona yang ditinggalkan pemilik lama. Lisensi BWA yang dikembalikan itu berada di zona Jabodetabek-Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Papua, Maluku dan Maluku Utara, serta Kepulauan Riau.

“Rencananya, di zona-zona itulah yang bakal dibuka kembali tendernya pada 2013. Akan ada seleksi lagi bagi zona yang ditinggalkan, waktunya belum ditentukan, tapi setelah tender kanal 11 dan 12 frekuensi 3G,” ujar Gatot. Kini, tender kanal terakhir 3G itu sudah selesai.

Pemegang lisensi BWA saat ini adalah PT Indosat Mega Media (IM2), PT First Media Tbk, PT Berca Hardaya Perkasa (Berca), dan PT Jasnita Telekomindo. Sedangkan pemegang lisensi BWA yang sudah menggelar jaringan wimax secara komersial baru dua perusahaan, yakni First Media dan Berca.

First Media telah menawarkan layanan internet berkecepatan tinggi (wimax) secara komersial sejak November 2011 dengan merek dagang Sitra. Sedangkan Berca menawarkan layanan wimax dengan merek dagang Wigo di wilayah Medan, Batam, Palembang, Pontianak, Pekanbaru, Makassar, Balikpapan dan Denpasar.

Budi mengakui, pemegang lisensi BWA berteknologi wimax lambat dalam menggelar jaringan dan memasarkan layanannya secara komersial. “Tidak hanya di Indonesia, di sejumlah negara pun, wimax memang tidak terlalu populer. Jadi disarankan kepada pemegang lisensi untuk ke depannya mengembangkan teknologi ini ke arah LTE,” tutur Budi.

Siap Gelar LTE
Sementara itu, Corporate Sales Director PT Link Net, anak usaha First Media, Dicky Moechtar menjelaskan, pihaknya menyambut baik kebijakan Kemkominfo yang mengizinkan pemegang lisensi BWA menggelar jaringan LTE. Saat ini, pihaknya terus melakukan pengkajian pengadopsian LTE, yang mampu menghadirkan layanan internet berkecepatan hingga 150 Mbps.

“Kita terus melakukan pengkajian untuk pindah ke LTE, dan kalau pemerintah memang akan membuka peluang tersebut di akhir tahun ini, kami sangat menyambut baik,” katanya.

Dicky mengungkapkan, saat ini First Media melalui merek dagang Sitra sudah mempunyai 10.000 pelanggan wimax. Setelah menggelar layanan wimax di Jadebotabek dan Banten pada 2011, First Media berencana mengelar layanan wimax secara komersial di Sumatera Utara dan Aceh.

Sejak mendapatkan lisensi BWA pada 2009, lanjut Dicky, pihaknya telah menginvestasikan dana lebih dari US$ 200 juta atau sekitar Rp 1,9 triliun. Biaya ini sudah termasuk pembayaran lisensi, sewa menara, serta biaya peralatan dan operasional. Hingga kini, First Media telah memiliki hampir 1.000 BTS untuk mendukung layanannya.

“Jika memang kami diizinkan mengadopsi LTE pada akhir tahun ini, kami memproyeksikan bisa menambah sekitar 400.000 pelanggan baru dalam waktu enam sampai 12 bulan ke depan,” tutur dia.

Tahun ini, perseroan berencana menganggarkan belanja modal sebesar US$ 130 juta untuk penyediaan peralatan pendukung wimax, termasuk menambah BTS. Untuk menjangkau kawasan Jabodetabek secara optimal dan maksimal diperlukan sebanyak 2.500-3.000 BTS. “Ya, kami berencana menambah BTS pada tahun ini sampai 3.000 BTS,” jelas dia

Sumber: Investor Daily
CLOSE