Dari total 290 ribu ton beras, hanya terdapat 1000 ton beras.

Komisi IV DPR RI menemukan ratusan ribu ton beras impor di salah satu gudang beras milik Badan Urusan Logistik (Bulog) di Sidoarjo, Jawa Timur.

"Temuan ini cukup ironis, impor beras yang dilakukan oleh Bulog ternyata dilakukan hanya untuk memenuhi gudang-gudang dengan beras dari negara lain," ujar anggota Komisi IV, Rofi Munawar, melalui e-mailnya yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu.

Temuan ini terungkap saat sejumlah anggota Komisi IV DPR melakukan inspeksi mendadak ke Jawa Timur. Mereka menemukan dari total 290 ribu ton beras yang tersimpan di Gudang Bulog, beras lokal hanya sebesar 1.000 ton, sedangkan kurang lebih 289 ribu ton beras yang tersimpan merupakan beras impor.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari- Juni 2011 impor pangan Indonesia senilai 5,36 miliar dolar AS (kurang lebih Rp 45 triliun). Tahun 2011 Pemerintah memberikan kuota impor beras sekitar 1,5 juta ton. Realisasi impor beras ini akan dilakukan hingga Februari tahun 2012. Saat ini sekitar 3.850 ton beras telah masuk, jika di total 800.000 ton beras diproyeksikan masuk selama 2011.

Padahal, menurut catatan Rofi, Pemerintah telah memastikan penghentian impor beras terhitung 31 Maret 2011. Ketika itu alasannya masa panen raya padi sedang berlangsung, stok beras secara nasional juga cukup memadai atau bisa untuk lima hingga enam bulan ke depan.

Namun, kondisi itu tidak bertahan lama, empat bulan berselang pertengahan Agustus Bulog telah melakukan impor beras dari Vietnam sebesar 500.000 ton beras yang masuk dari 20 pelabuhan di seluruh Indonesia. Kemudian dilanjutkan di bulan September direncanakan impor beras dari Thailand sebesar 300.000 ton.

"Bulog saat ini sudah dibekali Inpres No.8/2011, seharusnya dengan Inpres ini Bulog tidak mengalami kesulitan menyerap gabah dan beras petani karena harga pembelian akan mengikuti harga di pasar sesuai dengan pantauan BPS," ujarnya.

Tetapi kenyataan di lapangan justru sebaliknya dan hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Inpres tersebut tidak efektif.
"Seharusnya gudang Bulog dipenuhi dengan beras dari petani lokal, adapun beras impor hanya pelengkap. Namun apa yang terjadi justru berbeda 180 derajat, beras lokal terpuruk sedangkan beras impor mendominasi," ujar anggota FPKS itu.

Ditegaskannya pula bahwa temuan ini bukan tidak mungkin terjadi di gudang-gudang Bulog lainnya di seluruh Indonesia. Jika ini terjadi tentu menjadi sebuah gambaran rendahnya kesungguhan Bulog dalam menyerap beras dari petani lokal. Seharusnya dengan infrastruktur yang dimiliki Bulog tidak sulit menyerap gabah dari petani.

 

Penulis:

Sumber:-