Menkeu Muhammad Chatib Basri (tengah) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana (kanan) dan Wakil Menkeu Mahendra Siregar (kiri) menghadiri rapat paripurna DPR di Jakarta.

Indonesia tidak akan merasa tergangu dengan masuknya produk-produk maupun Sumber Daya Manusia (SDM) asal Myanmar.

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan Indonesia tidak memandang Myanmar sebagai salah satu negara pesaing tujuan investasi, terutama dari Jepang, yang harus diwaspadai. Sebaliknya, pemerintah RI menyambut positif geliat investasi dinegara tetangga itu karena akan memperkuat potensi dan ekonomi Asean secara keseluruhan.

Wakil Menteri Keuangan II Mahendra Siregar menjelaskan pihaknya melihat Myanmar dari dua sisi, yakni sebagai negara Asean yang berpotensi besar sebagai penghasil produk pertanian handal sebelum menghadapi masalah internal. Lalu Myanmar juga dipandang sebagai mitra dagang dan investasi RI yang cukup strategis.

"Kita gembiraa Myanmar bisa kembali memperkuat kondisi perekonomian dan potensi peertumbuhan ekonomi di Asean. Indonesia berinvestasi ke sana, baik swastaa maupun BUMN, dalam konteks itu Indonesia melihat posisi Myanmar sebagai mitra yang strategis," tutur Mahendra di gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/5)

Lebih lanjut Mahendra menjelaskan Indonesia juga tidak khawatir jika banyak negara industri yang mulai melirik Myanmar akan bisa menggerus porsi investasi di Indonesia. Dia beralasan bahwa masing-masing negara, sebagai pusat produksi, memiliki kekuatan, daya saing sekaligus memiliki kelemahan.

Dalam konteks perkembangan ini, katanya, Indonesia melihat Myanmar dari sisi yang positif yakni supaya negara anggota Asean itu semakin cepat maju dan stabil kondisi ekonominya. Indonesia juga dinilai tidak akan tersaingi negara itu karena memiliki lebih banyak keunggulan.

"Kita tidak melihat Myanmar sebagai saingan dalam konteks itu karena Indonesia sudah maju," tambah dia.

Terkait rencana pelaksanaan masyarakat ekonomi Asean (AEC), dia juga menegaskan Indonesia tidak akan merasa tergangu dengan masuknya produk-produk maupun Sumber Daya Manusia (SDM) asal Myanmar.

Mahendra berpendapat dalam situasi resesi dunua ini, Asean merupakan satu-satunya kawasan yang tumbuh baik sehingga harus dijaga momentum pertumbuhan ekonominya.

Dia juga justeru merasa sebagai negara paling besar di Asean, berlakunya AEC pada 2015 mendatang akan memberikan keuntungan bagi Indonesia dan juga negara-negara Asean lainnya. Oleh karenanya dia menghimbau supaya pandangan kekhawatiran terhadap AEC harus diubah secara positif untuk memperkuat kawasan ini.

"Kalau tidak maka seluruh kawasan akan menjadi lemah dan gak ada lagi motor ekonomi global. Jadi jangan melihat negara-negara satu kawasan menjadi saingan, tapi menjadi mitra dan kelompok. (Asean) Satu-satunya kawasan yang tumubh relatif sehat dibandingkan kawasan lainnya," pungkasnya.

Investor Daily

Penulis: WYU/FER

Sumber:Investor Daily