Ilustrasi akuntan

Jakarta - Pelaporan keuangan yang transparan, baik pada perusahaan maupun lembaga negara, dinilai akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan laporan keuangan transparan, maka tingkat korupsi dan alokasi dana-dana tidak terduga dipastikan semakin rendah, sehingga bisa meningkatkan efisiensi anggaran maupun profit perusahaan.

Head Of ACCA Indonesia, Mulyadi Setiakusuma menjelaskan, kinerja pertumbuhan ekonomi RI luar biasa jika dibandingkan dengan negara lain dalam satu kawasan, karena mampu mencapai 6% di tengah krisis ekonomi global. Namun menurutnya, pertumbuhan tersebut bisa terhambat, jika banyak perusahaan maupun instansi pemerintah yang masih tidak melakukan transparansi dalam pelaporan keuangannya.

"Saya yakin, lebih tinggi (pertumbuhan ekonomi RI) kalau financial reporting rapi, korupsi dikurangi, dana-dana tak terduga dikurangi. Itu pasti akan memberikan perusahaan semakin untung, pajak negara semakin besar, maka dana untuk membangun infrastruktur (juga) akan lebih banyak karena lebih efisien," ujar Mulyadi, dalam acara peluncuran ACCA (Association of Chartered Certified Accountants), badan internasional untuk akuntan profesional, di Jakarta, Kamis (30/5).

Menurut Mulyadi, selama ini hasil pajak yang dibayarkan para wajib pajak sangat besar, namun sebagian besar digunakan untuk mensubsidi yang lain, tidak untuk membangun infrastruktur, sehingga kualitas infrastruktur di Indonesia menjadi tak optimal. Dia juga menyoroti banyaknya laporan keuangan pemerintah yang kurang rapi, sehingga banyak anggaran bocor dan berdampak pada rendahnya pembangunan infrastruktur.

Namun, Mulyadi mengaku optimistis, apabila pemerintah dan swasta bisa bersama-sama memperbaiki laporan keuangannya, maka laju pertumbuhan ekonomi akan semakin kencang. Dengan demikian, proyeksi pemerintah untuk menjadikan RI sebagai salah satu dari 10 negara maju, pun akan bisa terwujud.

"Sebetulnya, ada banyak dana (untuk) membangun infrastruktur. Tapi karena laporan keuangan ini banyak yang kurang rapi, banyak bocor di sana-sini, ibarat kapal, majunya pelan. Seandainya lubang ditambal, maka kapalnya lajunya (akan) makin kecang. Saya percaya, 2020 itu Indonesia itu masuk 'top 10 country' jika bisa melakukan transparansi pada financial reporting," imbuhnya.

200 Ribu Akuntan
Lebih lanjut, Mulyadi menjelaskan, idealnya Indonesia butuh 200 ribu akuntan profesional, untuk mewujudkan laporan keuangan yang transparan dan berstandar internasional. Dengan kata lain, jauh lebih banyak dari jumlah akuntan profesional saat ini yang hanya mencapai 10 ribu. Jumlah ini didasarkan pada rasio jumlah penduduk Indonesia yang melebihi 200 juta jiwa, dalam arti sekitar 0,1 persen dari total penduduk.

Mulyadi berpendapat bahwa semakin banyak akuntan profesional, maka akan membuat negara semakin baik, karena orang akan semakin sadar bayar pajak, dan laporan keuangan perusahaan semakin transparan. Dengan transparannya laporan keuangan, maka kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun menurutnya, dipastikan akan terbantu dan good governance bisa terwujud.

"Sebetulnya masih jauh sekali (rasio akuntan profesional ideal), karena kita penduduknya lebih dari 200 juta. Ini 0,1 persen atau rasio minimum sebetulnya. ACCA akan bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk mencetak akuntan profesional. Sebentar lagi kami akan lakukan MoU dengan UI," pungkasnya.

 

Investor Daily

Penulis: WYU

Sumber:Investor Daily