Tarung Derajat, Berawal dari Tempaan Hidup yang Keras

Tarung Derajat, Berawal dari Tempaan Hidup yang Keras
Aa Boxer ketika memperagakan Tarung Derajat di Jakarta. ( Foto: Beritasatu/Arientha Primanita )
Kamis, 10 November 2011 | 16:17 WIB
Tarung Derajat diciptakan Aa Boxer karena pengalaman hidup yang keras saat kecil.

Tempaan pengalaman hidup ternyata bisa menghasilkan karya bela diri khas daerah seperti Tarung Derajat yang berasal dari Bandung, Jawa Barat yang tahun ini bertanding dalam eksebisi Sea Games ke 26.

Tarung Derajat adalah bela diri yang diciptakan oleh Achmad Drajat pada tahun 1968 berdasarkan pengalaman hidupnya yang keras sejak ia kecil.

"Dulu saya hidup di lingkungan yang keras dan selalu diganggu orang. Jadi saya ciptakan Tarung Derajat, seni bela diri yang keras tapi untuk membantu orang," ujar pria yang akrab disapa Aa Boxer dalam konferensi pers di Mall FX, Senayan hari ini.

Drajat mengatakan ia mengembangkan gerakan Tarung Derajat sendiri berdasarkan gerakan tubuhnya untuk melakukan pembelaan diri.

Meski mengakui bahwa Tarung Derajat adalah olah raga bela diri yang keras dan menerapkan "full body contact", ia mengatakan Tarung Derajat memiliki filosofi khusus dibalik kekerasannya.

"Filosofinya adalah membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan hakikatnya. Tujuannya adalah ingin memanusiakan manusia melalui teknik olah tubuh, olah pikiran dan olah nurani," ujarnya.

Tergolong sebagai seni bela diri keras, pendiri Tarung Derajat, Achmad Drajat, ungkapkan bahwa olahraga yang diciptakannya tidak memerlukan pelindung tubuh (body protector).

"Seni bela diri itu katanya harus juga mengutamakan keselamatan, tapi, bagi saya, keselamatan itu adalah menggunakan pukulan dan tendangan, dan daya tahan untuk menahan pukulan dan tendangan tersebut," jelas pria yang sering dipanggil Guru Aa Boxer tersebut.

Apabila menggunakan body protector, lanjutnya, justru akan mengurangi nilai tekniknya dan membuat para atlet semakin malas menggunakan teknik tersebut.

"Kalau pakai body protector, pasti kena, tapi, tidak keras. Itu kan nilainya bisa beda. Kalau tidak kena kulit, bunyinya nanti akan beda," jelasnya menambahkan bahwa inti Tarung Derajat adalah moralitas untuk menyerang keras tanpa melukai lawan tapi mendapatkan nilai.

Untuk aturan Tarung Derajat, tendangan ke muka akan mendapatkan poin tiga, tangan ke muka hanya dua poin. Sementara, yang tidak diperbolehkan adalah 'clenching' (menangkap), serangan ke bawah, menggunakan sikut, lutut, atau memeluk.

"Kalau mau leher, kasih aja leher," katanya sambil menjatuhkan rekannya yang memegang lehernya dari belakang dengan satu bantingan.

Ia mengatakan Perguruan Tarung Derajat yang dibentuknya dan bermarkas di Bandung, Jawa Barat yang secara berdikari mempromosikan diri hingga akhirnya diterima masuk dalam eksebisi Sea Games ke 26.

Dipanggil sebagai Sang Guru oleh perguruannya, pria berusia 62 tahun ini berperawakan kecil namun dengan gerakan yang gesit. Meski memiliki beberapa tato di lengannya, ayah tiga anak ini terlihat ramah dan sangat bersemangat bicara mempromosikan bela diri ciptaannya ini.

Dara Mentari Drajat, putri bungsu Drajat yang juga pelatih putri di perguruan mengatakan dirinya dan kedua kakaknya Badai Mega Negara Drajat dan Rimba Dirgantara melakukan demonstrasi dan promosi ke Thailand agar cabang ini bisa diterima oleh negara Gajah Putih tersebut.

Ia mengatakan mereka diterima oleh Staf Kementerian Olahraga Thailand dan langsung menunjukkan gerakan dan aksi Tarung Derajat. Dari demonstrasi itulah mereka mendapatkan tanggapan positif dan kemudian informasi mulai disebarkan ke negara lain seperti Vietnam, Filipina dan Myanmar. Sampai saat ini ada delapan negara Asean yang sudah menjadikan Tarung Drajat sebagai cabang olah raga.

"Sekarang di Vietnam, Tarung Derajat menjadi ekstrakurikuler di sekolah-sekolah dan juga Universitas," ujarnya di acara yang sama.

Drajat dan Dara mengharapkan dengan masuknya Tarung Derajat dalam eksebisi Sea Games bisa semakin mempopulerkan bela diri ini.

"Ini adalah olah raga asli Indonesia, bahkan istilah-istilahnya juga menggunakan Bahasa Indonesia yang juga digunakan oleh seluruh negara yang memiliki cabang ini," ujar Dara.

Dalam Tarung Derajat menggunakan istilah bahasa Sunda Akang dan Teteh untuk panggilan pelatih.
CLOSE