Pemanfaatan Bungkil Sawit untuk Pakan Ternak Belum Digarap Serius

Pemanfaatan Bungkil Sawit untuk Pakan Ternak Belum Digarap Serius
Seorang pekerja perkebunan kelapa sawit tengah memeriksa hasil panen ( Foto: AFP )
INA / FMB Senin, 2 Juni 2014 | 10:52 WIB

Jakarta - Anggota Komisi IV DPR, Habib Nabiel Almusawa menilai sampai saat ini pemanfaatan bungkil sawit untuk pakan sapi masih jauh dari optimal.

"Ini indikasi bahwa program ISS (integrasi sapi-sawit) di perkebunan sawit, secara umum masih jauh dari berhasil," katanya mengomentari temuan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang menyebutkan penggunaan bungkil sawit untuk pakan ternak saat ini masih tidak banyak.

Padahal, bungkil sawit memiliki kandungan serat yang mirip dengan rumput. Karena tidak termanfaatkan tersebut maka Kemenperin mendorong agar dimudahkan ekspornya dengan cara menghapus bea keluarnya.

"Saya tidak setuju dengan wacana penghapusan BK tersebut. Saya malah usul agar BK bungkil sawit dinaikkan agar perkebunan sawit lebih termotivasi mengolahnya menjadi pakan ternak ", ucapnya.

Ia menduga, pengusaha lebih memilih ekspor dan kurang termotivasi untuk mengolah bungkil sawit menjadi pakan ternak karena alasan ekonomis. "Dari hitung-hitungan ekonomi mungkin lebih menguntungkan ekspor", ujarnya.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian di tahun 2011 melaporkan, produksi bungkil sawit nasional mencapai 2,8 juta ton. Dari jumlah tersebut 95% diekspor dan hanya 5% sisanya untuk kebutuhan dalam negeri. Yang 5% sisanya itupun tidak mudah diakses oleh peternak.

"Akan lebih baik bila potensi bungkil sawit kita itu diolah semua menjadi pakan untuk mendukung program ISS", tuturnya.

Bila potensi ini dikelola maksimal di seluruh perkebunan sawit, menurutnya, setidaknya ada tiga keuntungan yang akan diperoleh. Pertama, mengurangi kemiskinan karena program ini tentu membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Kedua, panen sapi untuk mewujudkan swasembada daging. Ketiga, tersedianya pupuk organik murah untuk menjaga kesuburan tanaman sawit.

Kendala utama untuk mewujudkan hal tersebut saat ini adalah pengadaan bibit sapi yang cukup. "Untuk mengelola potensi yang besar itu tentu membutuhkan sapi dalam jumlah yang banyak juga", paparnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut ia meminta Kementerian Pertanian, dalam hal ini Ditjen PKH dan Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan), turun tangan membantu memfasilitasi pengadaan bibit sapi. "Semua program kementerian yang bersifat lintas sektoral harus melakukan kerjasama dan saling kordinasi antar kementerian/lembaga. Tata kelola negara ini tidak akan pernah baik kalau tidak ada link and match yang bagus antar kementerian dan lembaga", pungkasnya. 

Sumber: Investor Daily
CLOSE