Raudah Jannah (kiri) dan adiknya Aliya (kanan) di Gampong Lamno Aceh Jaya. Bocah ini merupakan keturunan kelima Portugis. (Muhammad Furqan)
Keturunan Portugis di Lamno berasal dari prajurit Portugis.

Sejenak terpesona menyaksikan pria berhidung mancung, bermata biru, berambut pirang, bertubuh besar dengan bulu-bulu di tangan yang lebat.

Penampilannya berbeda dengan warga di sekelilingnya yang rata-rata berambut hitam, berkulit sawo matang serta bermata coklat.

Mereka yang fasih bahasa Aceh bukanlah orang Eropa atau Timur Tengah. Mereka adalah penduduk Lamno Kabupaten Aceh Jaya. Masyarakat menyebutnya keturunan Portugis dengan ciri khas bermata biru baik perempuan atau pria.

"Keturunan Portugis di Lamno berasal dari prajurit Portugis yang sudah ratusan tahun lalu," papar sejarawan Aceh M Adli Abdullah kepada beritasatu.com hari ini.

Adli menjelaskan, ada beberapa versi asal usul Portugis di Lamno. Pertama mereka berasal dari prajurit Portugis yang menjajah Lamno pada 1519 setelah menaklukan Malaka Malaysia pada 1511. Sementara itu, kerajaan Aceh masih berdaulat. 

Versi kedua, Raja Portugis mengirim bala bantuan kapal perang ke Malaka untuk membantu pasukan di sana. 

Namun apes, kapal yang memuat ratusan prajurit itu tenggelam di sekitar perairan Lamno. Kemudian Raja Daya di Lamno menyelamatkannya dan mereka pun bergaul serta menikah dengan warga setempat.

"Hanya di Aceh prajurit Portugis memeluk Islam. Ini membuktikan pengaruh Islam sangat kuat," tambah kandidat doktor hukum Universitas Kebangsaan Malaysia.

Lamno berada di pesisir barat Aceh atau sejauh 86 kilometer dari Kota Banda Aceh. Kehidupan sehar-hari mereka seperti lazimnya rakyat Aceh. Komunitas bermata biru -sebutan untuk keturunan Portugis - menetap di Desa Kuala Daya serta tersebar di Lambeuso, Ujong Meuloh, Geu, Bahagia, Teumareum, Gle Jong dan Mukhan.

Sebelum tsunami 26 Desember 2004, Lamno dihuni oleh 23.700 jiwa di 48 desa.  Hempasan gelombang tsunami melenyapkan 22 desa dan menewaskan 8.500 jiwa warga termasuk bermata biru.

Ikatan emosional yang berabad-abad itulah yang mengerahkan Portugal membangun satu unit Puskesmas plus dan dua unit sekolah di  Lamno senilai Rp 7,9 miliar.

Penulis: