Muliaman Hadad (kiri) bersama Darmin Nasution (kanan)
Bank asing akan mengalami kesulitan menyusul masalah utang di Uni Eropa sehingga mereka tidak memasang target tinggi.

Perbankan Indonesia pada 2012 menargetkan pertumbuhan kredit 23,6 persen, melambat dibanding 2011 yang diperkirakan 26 persen. 

Target ini cukup relevan di tengah tekanan krisis global karena kokohnya pertumbuhan ekonomi nasional seiring melandainya suku bunga kredit.

"Dari kompilasi Rencana Bisnis Bank (RBB), tidak benar kalau mengatakan bank pesimis," ujar Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah dalam jumpa pers di Kantor BI, Jakarta, hari ini.

Menurut Halim, pada tahun ini bank-bank asing akan mengalami kesulitan menyusul masalah utang di Uni Eropa sehingga mereka tidak memasang target tinggi, yakni sekitar 20 persen. Sedangkan perbankan nasional rata-rata di atas 22 persen, walaupun ada tiga, atau empat bank yang sengaja memasang target rendah.

"Perbankan masih optimis terhadap perekonomian. Asing pesimis karena di kantor pusatnya situasi tidak begitu optimis," kata Halim.

Sementara itu, perbankan bertekad mempertahankan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tahun lalu.  "Pada 2011 targetnya hanya 13,6 persen, walau aktual bisa 19 persen. Pada 2012 mereka menargetkan 19,3 persen," kata Halim.

Dia juga mengungkapkan, kebijakan BI mendorong efisiensi dengan mewajiban bank mengumumumkan suku bunga dasar kredit (SBDK) sudah cukup berhasil. Di sektor korporasi, terjadi penurunan SBDK dari Maret 10,51 persen menjadi 10,36 pada November. Sementara ritel, cenderung konstan dari 11,80 persen di Maret menjadi 11,78 persen di November.

Sementara SBDK yang turun cepat adalah KPR yakni 11,16 persen pada Maret menjadi 10,82 persen pada November. Adapun di sektor non KPR justru naik yakni 11,56 persen pada Maret menjadi 11,68 persen pada November. "Kebijakan SBDK meningkatkan kompetisi untuk segmen populer, sedangkan di segmen yang tidak banyak terlibat justru bisa naik," pungkas Halim.


Penulis: