BNI.
Pertumbuhannya ditahan di 5%-10% untuk 2012 karena sudah menunjukkan tanda-tanda overheating.

Direktur Retail and Consumer Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Darmadi Sutanto mengatakan, pihaknya cukup berhati-hati dengan pertumbuhan kredit kendaraan bermotor (KKB). Perseroan menerapkan kebijakan membatasi KKB, sehingga pertumbuhannya hanya 5% hingga akhir 2011.

"Hingga akhir 2011, kredit konsumsi kami tumbuh sekitar 32-33% menjadi sekitar Rp 34 triliun. Kontribusi terbesar masih dari kredit pemilikan rumah (KPR) yang tumbuh hampir 50%, sisanya kartu kredit yang tumbuh 32-34% dan KKB ditahan di level 5%," papar Darmadi ketika ditemui di Gedung BNI 46, Jakarta, Rabu (1/2).

BNI akan meneruskan kebijakan menahan pertumbuhan KKB tersebut tidak akan lebih dari 10%. Pasalnya, kendati rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) masih baik, dia mengakui saat ini sudah terdapat tanda-tanda overheating di pertumbuhan kredit otomotif.

"Banyak perusahaan multifinance yang meminta pendanaan, namun kami harus berhati-hati sehingga fasilitas kredit ke multifinance tidak ditambah. Hingga 2011, kami menyalurkan kredit untuk mobil dan motor senilai Rp 6,5 triliun," jelas dia.

Darmadi menilai, pertumbuhan kredit konsumsi perbankan saat ini belum bisa dikatakan tinggi, karena sesuai dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. BNI juga tidak terlalu khawatir dengan pertumbuhan KPR yang cukup tinggi, karena sekitar 80% dari debiturnya merupakan first user.

KPR BNI telah mencapai Rp 18 triliun hingga akhir 2011. Sedangkan di sisi kartu kredit, BNI telah membukukan 550 ribu kartu baru dan saat ini total mencapai 2 juta kartu. Secara keseluruhan, BNI menargetkan pertumbuhan kredit konsumer sebesar 25% tahun ini.

"Kami akan meningkatkan kredit wirausaha yang pada 2011 baru sekitar Rp 3,2 triliun. Kami juga sedang mengkaji kemungkinan membangun e-commerce karena perkembangan media sosial saat ini sangat fenomenal," jelas Darmadi.

Penulis: