PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), akan mencari pendanaan melalui pinjaman perbankan sebesar US$200 juta tahun ini untuk melengkapi pembayaran pre delivery payment penambahan armada baru.
Menurut Direktur Keuangan GIAA, Elisa Lumbantoruan, kebutuhan dana perseroan untuk pengembangan pesawat sekitar US$430 juta.
Dari jumlah tersebut sekitar Rp2,7 triliun akan diambilkan dari kas internal dan hasil IPO sebesar Rp1,7 triliun.
Sisanya direncanakan akan diambilkan dari pinjaman perbankan sebesar US$200 juta.
"Mungkin paling lambat kuartal IV tahun ini kami akan mencari pendanaan dari bank US$200 juta, untuk menambah Pre-Delivery Payment," katanya di Tangerang, hari ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, perseroan merubah rencana pembelian pesawat untuk mendukung bisnis perseroan.
Direktur Utama GIAA, Emirsyah Satar mengatakan, awalnya pasca IPO perseroan berencana untuk menambah sejumlah armada pesawat, antara lain Boeing 737-800NG sebanyak 10 unit, Boeing 7777-300 ER sebanyak 10 unit, Airbus 330-200 sebanyak 6 unit, Pesawat tipe narrow body untuk Citilink sebanyak 5 unit dan pesawat tipe sub-100 sebanyak 5 unit.
Namun mengingat cepatnya perkembangan bisnis perseroan, GIAA menambah jumlah pesawat yang akan ditambah dan juga mengubah alur strategi pembeliannya hingga 2015.
"Rinciannya boeing 737-800NG dari rencana beli 10 unit menjadi 20 unit, boeing 777-300 ER tetap 10, A330-200 dari 6 unit menjadi 24 unit, pesawat tipe narrow-body dari 5 unit menjadi 25 unit dan tipe sub -100 dari rencana beli 5 unit menjadi 18 unit," katanya.
Emirsyah mengatakan, hal ini dilakukan karena kondisi pasar yang berubah lebih cepat sementara ketersediaan pesawat terbatas.
Meski menambah jumlah pesawat yang akan dibeli, namun Emirsyah menambahkan, dana yang disediakan untuk pembelian pesawat tersebut tetap menggunakan 80 persen dari dana hasil IPO.
"Awalnya kami berencana melakukannya dengan operating list, namun kami kesulitan mencari operating list, maka sumber alternatifnya adalah dengan melakukan pembelian pesawat langsung, namun dananya tetap, sehingga dana yang awalnya untuk membeli pesawat secara bertahap, kami salurkan langsung untuk pre delivery payment pesawat," ujarnya.





