Seorang pekerja menyortir buah manggis di Pasar Induk Buah dan Sayuran Giwangan Yogyakarta, buah manggis yang merupakan salah satu buah asli Indonesia tersebut dijual Rp 3.500 per kg (14/1/12). FOTO ANTARA/ Wahyu Putro .
Seorang pekerja menyortir buah manggis di Pasar Induk Buah dan Sayuran Giwangan Yogyakarta, buah manggis yang merupakan salah satu buah asli Indonesia tersebut dijual Rp 3.500 per kg (14/1/12). FOTO ANTARA/ Wahyu Putro .
Meningkatnya impor buah menunjukkan bahwa daya beli sayur dan buah dalam negeri naik

Pemerintah mengundang investor agar masuk ke sektor hortikultura karena prospeknya makin cerah.
 
Dirjen Hortikultura Kementan Hasanudin Ibrahim menuturkan, sekarang adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan produktivitas hortikultura Indonesia. Meningkatnya impor buah menunjukkan bahwa daya beli sayur dan buah dalam negeri naik. "Sinyal itu harus ditangkap, termasuk investor," tutur dia di Jakarta, hari ini.
 
Saat ini, sudah ada sejumlah investor yang tertarik masuk hortikultura, diantaranya PTPN IX dan X serta beberapa anggota Asosiasi Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Asibsindo).
 
Dalam mengembangkan investasi hortikultura, kata dia, pengusaha harus memperhatikan bahwa komoditas hortikultura memiliki kekhasan.

Berdasarkan mandat menteri pertanian, ada 323 produk hortikultura yang harus dikembangkan. "Diluar itu masih banyak lagi," ujar Hasanudin.
 
Agar produk hortikultura lokal bisa diterima masyarakat, komoditas harus  segar, dekat dengan masyarakat, dan terjamin kontinuitasnya. Apalagi, Indonesia kaya dengan buah eksotis, seperti manggis di Jepang yang harga jualnya bisa Rp50 ribu per butir.

Sayangnya, pengembangan hortikultura selama ini kurang maksimal karena pemerintah masih fokus menggenjot produksi beras.
 
Pihaknya berjanji akan mendorong perkembangan hortikultura dengan menggunakan varietas klon unggul. Misalnya, jeruk kulit oranye.
 
Dia menambahkan, derasnya impor hortikultura telah mengakibatkan kontaminasi organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK). Akibatnya, banyak komoditas dalam negeri yang terkontaminasi.

Misalnya, benih kentang dari Jawa Timur sudah tekontaminasi nematoda sista kuning (NSK)  sehingga dicegah jangan sampai keluar ke sentra kentang lainnya.

"Akibatnya, produksi yang seharusnya 20 ton per hektare (ha), turun menjadi kurang dari 10 juta ton. Biaya produksi juga menjadi lebih  tinggi," kata dia.