Peneliti perdagangan karbon (carbon trading), Larry Lohmann, menyatakan bahwa para pengambil kebijakan dan pemerintah mempertimbangkan untuk tidak masuk ke dalam perdagangan karbon, karena terlalu riskan dan banyak ketidakjelasan.
"Harga karbon sangat mudah untuk dimanipulasi, karena merupakan produk finansial. Banyak pula skandal terkait dengan kredit karbon, misalnya penggelapan pajak dan sebagainya. Kenapa? Karena, kredit karbon merupakan bentuk 'produk gila' (crazy product), karena tidak ada seorang pun yang tahu produk yang diperdagangkan, sehingga sangat mudah untuk memasukkan angka berapa pun," kata Lohmann, yang berbicara dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (6/2).
Lebih jauh, Lohmann mengatakan bahwa perdagangan karbon merupakan perdagangan yang didasarkan pada penjualan Certified Emission Reduction (CER), atau lebih dikenal sebagai kredit karbon yang didapatkan karena berhasil menurunkan level emisi karbon dari sektor industri mana pun. "Bagaimana bisa mendapatkan uang, kalau tidak ada pasar?" lanjutnya.
Lohmann pun menambahkan bahwa harga kredit karbon di bursa Chicago Climate Exchange misalnya, merosot tajam dari tujuh hingga delapan euro per satu kredit karbon, menjadi 3,3 euro per satu kredit karbon. Ia menjelaskan, kelesuan pasar karbon terjadi karena menumpuknya suplai dari negara pemasok karbon besar, seperti India, Indonesia, juga Brazil, sementara kemampuan membeli merosot tajam akibat adanya krisis ekonomi global sejak tiga tahun lalu.
"Saat terjadi krisis ekonomi global, maka produktivitas untuk karbon juga menurun drastis. Alasan kedua, karena memang kredit karbon sangat mudah untuk dicurangi," tambah Lohmann.
"Metodologi untuk menghitungnya pun mustahil untuk bisa dilakukan. Harus bisa menyewa orang yang sangat pintar, sangat mahal, dengan mengeluarkan banyak uang. Mereka pun tidak jarang bisa keluar dengan angka-angka yang aneh. Kalau tidak dipercaya, akan bisa berbalik arah," imbuh dia.





