Laporan dari Singapura

Cegah "Illegal Fishing", Menteri Susi Laporkan Emiten RRT ke Nasdaq

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti (Antara/Wahyu Putro A)

Oleh: Ester Nuky / HS | Kamis, 27 Agustus 2015 | 20:55 WIB

Singapura - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terus berupaya memperkuat dukungan dan kerja sama dengan berbagai institusi internasional untuk pemberantasan illegal fishing. Emiten asal Tiongkok, Pingtan Marine Enterprise Ltd, akan dilaporkan ke otoritas bursa saham Nasdaq Amerika Serikat minggu depan, karena diduga mengoperasikan seratusan kapal pencuri ikan di Laut Arafura.

"Ada emiten di Nasdaq, Pingkan Marine, melaporkan anjloknya laba akibat 117 kapalnya tidak bisa beroperasi lagi di Laut Arafura, karena pemberantasan illegal fishing yang dilancarkan Pemerintah Indonesia. Ini merupakan perusahaan perikanan terbesar kedua di Tiongkok. Kami ingin menelusuri dugaan apakah kapal-kapal itu beroperasi di Indonesia lewat perusahaan PT Dwikarya Reksa Abadi, yang bosnya Sutarno Sugondo," kata Susi di sela acara Kuliah Umum Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia di Nanyang Technological University, Singapura, Kamis (27/8).

Sutarno Sugondo merupakan direktur utama PT Dwikarya Reksa Abadi, perusahaan perikanan yang dicabut izinnya karena diduga melakukan pelanggaran pidana. Perusahaan ini diduga terafiliasi dengan Pingtan Marine. Sementara itu, di Indonesia tidak ada izin kapal ikan yang dikeluarkan untuk Pingtan, apalagi yang mendapat izin menangkap ikan di Laut Arafura yang terletak antara Maluku dan Papua.

Berdasarkan data CNN, Pingtan Marine Enterprise Ltd mencatatkan pendapatan US$ 44 juta pada paruh pertama 2015, anjlok 64% dibandingkan dengan pencapaian semester I tahun lalu US$ 122,5 juta. Hal ini membuat laba perusahaan turun 82,12%, dari US$ 38,23 juta menjadi US$ 6,83 juta.

CEO Pingtan Marine Xinrong Zhuo memaparkan, kinerja negatif perusahaannya karena kebijakan pemberantasan illegal fisihing yang diterapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia.

"Indonesia kini melarang penangkapan ikan oleh asing, ikan hanya boleh ditangkap oleh orang Indonesia. Namun, kami membuka kesempatan asing untuk masuk berinvestasi di industri akuakultur, pengolahan, maupun perusahaan ekspor," imbuh Susi.


Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT