Bank Ilustrasi: Bank Mutiara [dulu Century]
Bank Ilustrasi: Bank Mutiara [dulu Century] (sumber: ANTARA)
Yawadwipa Companies konon berkantor di Menara II Lantai 17 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI)

Nama PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) belakangan kembali menjadi populer, setelah beberapa waktu lalu terkenal karena bank tersebut berembrio dari Bank Century yang membuat geger Indonesia.

Kali ini, nama Bank Mutiara kembali mencuat ke permukaan karena adanya isu Bank yang diselamatkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini akan dibeli oleh perusahan bernama Yawadwipa Companies.

Keberanian perusahaan pimpinan Christopher Holm yang berani membeli Bank Mutiara diharga US$750 juta atau setara Rp6,75 triliun ini sungguh mengejutkan, pasalnya Bank Mutiara selama ini tidak menarik minat investor karena tingginya harga yang ditawarkan oleh LPS.

Beritasatu.com yang berusaha mencari tahu keberadaan Yawadwipa Companies, yang konon berkantor di Menara II Lantai 17 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengalami jalan buntu.

Ketika dihubungi melalui nomor ektensi pengelola gedung BEI, seseorang yang mengangkat telepon tanpa menyebutkan namanya itu menjawab bahwa tidak ada nama perusahaan Yawadwipa yang menyewa tempat di gedung tersebut.

Ketidakjelasan tentang keberadaan kantor Yawadwipa juga semakin terasa ketika Beritasatu.com mencoba untuk mendatangi ke lantai 17. Begitu keluar dari lift, di lantai 17 terdapat dua lokasi di sebelah kanan dan kiri lift.

Di sebelah kanan adalah kantor yang terdapat plakat bernama Panin Sekuritas sementara di sebelah kiri ada kantor tapi tanpa plakat nama. Ketika mencoba untuk menanyakan ke pihak resepsionis yang berada di kantor tanpa plakat tersebut, si resepsionis membenarkan di situ adalah kantor Yawadwipa, namun yang bersangkutan mengatakan bahwa semua pejabat Yawadwipa sedang tidak berada di tempat.

“Silahkan bapak meninggalkan kontak di sini, nanti akan kami hubungi kalau sudah ada pejabat yang datang,” katanya, hari ini.

Dari informasi yang didapat dari petugas cleaning service di gedung tersebut, kantor tersebut memang tidak diketahui disewa oleh perusahaan apa, namun kantor tersebut memang biasanya disewa oleh perusahaan-perusahaan kecil untuk kantor bersama.

Konon perusahaan bernama Yawadwipa Companies dipimpin seseorang yang bernama Christopher Holm yang sekaligus akan menjabat sebagai Komite Investasi Java Fund.

Holm juga konon menggandeng salah satu wakil ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bernama Prasetyo Singgih yang menjabat sebagai Direktur Operasi.

Namun jika dirunut dari situs Kadin, tidak ada wakil ketua Kadin yang bernama Prasetyo Singgih. Ditemui terpisah, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal dan Publik Hariyadi B. Sukamdani juga mengatakan tidak tahu jika ada wakil ketua Kadin yang bernama Prasetyo Singgih.

“Kalau wakil ketua saya rasa tidak ada nama itu, entah kalau dia menjabat sebagai Komite Tetap,” katanya.

Namun, lagi-lagi ketika dicari di situs Kadin, tidak ada sama sekali nama Prasetyo Singgih di jajaran Komite Tetap di seluruh bidang yang ada di Kadin. “Saya tidak tahu, ya sekarang banyak orang ajaib yang tiba-tiba muncul dan punya aset banyak,” ujarnya sambil berkelakar.

Sementara, Direktur Utama PT Bank Mutiara Tbk, Maryono, menyerahkan mekanisme pemilihan investor baru kepada LPS. "Jika ada yang mau mendaftar silakan daftar kepada LPS," katanya.