PT Bank Mutiara Tbk tengah mengkaji rencana penerbitan obligasi subordinasi (subdebt) tahun ini. Kisaran nilai yang bisa diraup yaitu sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun.
Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama Bank Mutiara Maryono ketika ditemui seusai pembukaan cabang Jalan Samanhudi, Pasar Baru, Jakarta, hari ini.
"Saat ini rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) kami di level 12 persen. Kami masih melakukan pendekatan atau kajian untuk mencari cara dalam rangka menambah CAR," tutur Maryono.
Maryono mengatakan, kemungkinan subdebt tersebut berbentuk private placement. Dengan penambahan modal jenis tier 2 capital tersebut, CAR Bank Mutiara akan naik ke level 14 persen.
Hingga Desember 2011, total kredit Bank Mutiara telah mencapai Rp9,4 triliun atau meningkat sebesar 49,2 persen secara year to date (ytd) dibanding akhir 2010. Sedangkan sejak 3 tahun yang lalu ketika diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), kredit telah bertumbuh sebesar 97 persen.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp11,2 triliun atau bertumbuh 26 persen (ytd) dan sejak 3 tahun yang lalu, DPK meningkat sebesar 119 persen (ytd).
Total aset telah mencapai Rp13,1 triliun atau meningkat 22 persen (ytd). Sejak 3 tahun yang lalu meningkat 135 persen. Total laba bersih tercatat sebesar Rp291 miliar atau bertumbuh 33,4 persen persen (ytd).
"Pertumbuhan semua itu jauh di atas pertumbuhan industri. Kami juga telah berhasil menekan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) turun dari 10,4 persen menjadi 3,9 persen. Bahkan pada Januari 2012 sudah menjadi 3,6 persen," jelas Maryono.
Tahun ini, perseroan membidik kenaikan DPK sebesar 15,6 persen dan kredit sebesar 23 persen. Selain bekerja sama dengan ATM BCA/Prima, Bank Mutiara akan membuka 5 cabang biasa, 3 pusat kredit usaha kecil menengah (credit center), dan 4 gerai (outlet) untuk nasabah valuta asing (valas), baik bank note maupun transaksi valas lainnya.
Menurut Maryono, proyeksi laba tahun 2012 mencapai Rp121 miliar dan total aset sebesar Rp14,78 triliun. Proyeksi laba tersebut menurun dibanding laba 2011 karena tahun lalu laba bersih lebih ditunjang pendapatan dari pemulihan (recovery) aset.
"Tapi pendapatan bunga kami akan meningkat 94 persen, jadi kami akan perbaiki pertumbuhan laba," jelas Maryono.
Selama 3 tahun, Bank Mutiara berhasil melakukan recovery aset bermasalah sebesar 37 persen. Namun, tahun ini, nilainya akan sangat kecil, sehingga berpengaruh terhadap proyeksi laba 2012.
"Sisanya tinggal beberapa surat berharga warisan lama dan itu prosesnya panjang. Jadi kami tidak terlalu mengharapkan masuk ke laba," jelas dia.





