Pemangkasan kuota impor daging sapi dinilai bisa mendorong reaksi positif peternak dan mendukung tumbuhnya industri daging sapi dalam negeri.
“Dari data terbaru, produksi daging dalam negeri masih mungkin di tingkatkan. Kenaikan harga yang terjadi saat ini hanya masalah transisi, peternak lokal sedang beradaptasi. Jika kita bisa melalui tahun ini dengan baik, maka realisasi swasembada sapi pada 2014 merupakan keniscayaan,” kata anggota Komisi IV DPR Rofi Munawar, di Jakarta, hari ini.
Berdasarkan hasil Pendataan Sapi Perah dan Kerbau (PSPK) 2011 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ada kenaikan signifikan pada populasi sapi potong, sebesar 1,7 juta ekor sesuai kondisi per 1 Juni 2011.
Data awal sesuai blue print Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menunjukan, populasi sapi potong di 2010 mencapai 12,81 juta ekor, dan bertambah menjadi 13,21 juta ekor. Ternyata, populasi sapi potong berdasarkan PSPK 2011 mencapai 14,82 juta ekor.
Rofi menambahkan, yang perlu dilakukan saat ini adalah memastikan faktor off farm terkait distribusi dan pasar yang mendukung bagi industri sapi lokal.
Dampaknya, lanjut dia, sehingga demand dan supply dapat dilakukan lebih efisien di pasar, karena faktanya secara produksi daging sapi atau on farm tidak ada masalah karena terus mengalami peningkatan.
"Perlu ada usaha maksimal dari pemerintah untuk membangun alur distribusi dan logistik yang lebih efisien, karena pada kenyataanya biaya distribusi menjadi variabel pengungkit harga yang cukup signifikan," papar dia.
Menurut data Kementan, pertumbuhan populasi sapi potong di Indonesia selama 2003 – 2010 rata-rata 5,32 persen per tahun atau 653,1 ribu ekor per tahun.
Pada 2011, sapi lokal memasok kebutuhan nasional mencapai 292.450 ton daging atau setara 65,1 persen, sedangkan impor sebanyak 156.850 atau 34,9 persen.
Produksi lokal tahun ini ditargetkan 399.320 ton daging atau 82,5 persen, impor 84.740 ton atau setara 17,5 persen. Saat ini impor masih sebesar 34,9 persen dari kebutuhan. Impor ditargetkan susut menjadi 10 persen pada 2014.





