Kebijakan Ekonomi Prof Adrianus Mooy Masih Relevan Hingga Kini

Kebijakan Ekonomi Prof Adrianus Mooy Masih Relevan Hingga Kini
Agus Martowardojo ( Foto: istimewa / istimewa )
Lona Olavia / YUD Jumat, 1 Juli 2016 | 17:38 WIB

Jakarta - Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Prof Adrianus Mooy Msc Phd selaku mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 1988-1993 diakui Gubernur BI Agus DW Martowardojo masih relevan bagi perkembangan sektor keuangan Indonesia hingga saat ini.

"Di bidang keuangan, apa yang dicanangkan Prof Mooy ketika beliau menjadi Gubernur BI masih relevan. Karena di sektor keuangan kita masih perlu melakukan pendalaman keuangan untuk penyediaan dana jangka panjang. Prof Mooy datang dengan kebijakan yang intinya Indonesia harus punya sumber dana yang baik," ungkap Agus Marto dalam sambutannya pada acara Peluncuran Buku Otobiografi Prof Adrianus Mooy Msc Phd Telling HIS Story di Jakarta, Jumat (1/7).

Selama lima tahun menjabat sebagai Gubernur BI, Prof Mooy yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya, menurut Agus Marto selalu berhasil melangkah dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ternyata masih relevan hingga saat ini.

Setiap tahunnya, BI senantiasa mengeluarkan kebijakan yang intinya mengarah untuk mempersiapkan ekonomi Indonesia bisa maju dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, kuat, sehat, seimbang, inklusif, dan berkesinambungan. BI pun dapat menjalankan peranannya sebagai pengawas bank dengan prinsip asas kehati-hatian, misalnya saja dengan batas maksimum pemberian kredit, posisi devisa netto.

Bentuk kesuksesan Prof Mooy bisa dilihat saat tahun 1988 melalui paket kebijakan deregulasi perbankan 27 Oktober 1988 (Pakto 88) soal pendirian bank berikut cabang-cabangnya. Lalu di tahun 1992, undang-undang perbankan berhasil diluncurkan dan ini membuat Indonesia makin mempersiapkan diri dari sisi keuangan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Sebagai hasilnya, kata Agus Marto, sejak 2008 hingga saat ini, Indonesia berhasil tampil dengan pertumbuhan ekonomi yang cemerlang ditengah kondisi ekonomi dunia yang belum pulih. "Indonesia masih bisa terus menjaga pertumbuhan ekonominya. Di tahun lalu, ekonomi kita tumbuh 4,8%, kuartal I 2016 tumbuh 4,92%. Bank Indonesia memperkirakan bahwa di 2016 Indonesia mungkin tumbuh 5%-5,4%, diperkirakan 5,06%. Ini kondisi yang patut disyukuri bila dibandingkan negara-negara lain di dunia yang sedang sulit ekonominya bahkan tumbuh negatif," ucapnya.

Lanjut Agus Marto, dari sisi pemerintah dan otoritas fiskal ada hal yang harus ditangani yakni menjaga kehandalan dan kemandirian energi dan pangan, serta daya saing industri. Ini merupakan area yang harus diperbaiki secara struktural. Bagaimana Indonesia bisa maju secara infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), teknologi dan kelembagaan.

Prof Mooy, sambung Agus Marto telah menjadi figur yang dikagumi. Beliau punya pengalaman di birokrasi, gubernur BI, duta besar, pejabat di United Nation, lalu masih ada area yang harus digarisbawahi dan dihormati sebagai anggota DPR selama dua periode. Ini kondisi yang lengkap dimiliki Prof Mooy.

"Pak Mooy juga kami hormati sebagai sosok yang bijaksana, kompetensi, dan tokoh yang bijaksana. Dengan pengalaman yang kuat, bukan hanya sebagai sosok yang harus diteladani tapi pribadi yang rendah hati dan mudah bergaul sehingga semua merasa dekat dengan Pak Mooy. Kami sambut baik bapak menyelesaikan buku ini dan kami ingin segera membaca dan belajar dari wisdom Adrianus Mooy," tutup Agus Marto.

Dalam peluncuran buku ini, banyak tokoh yang hadir. Antara lain, Mantan Wakil Presiden ke-11 Boediono, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Arifin M Siregar dan Syahril Sabirin, mantan Deputi Gubernur BI Subarjo Joyosumarto, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad, Menteri Perindustrian Saleh Husein, mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya, Founder dan Chairman Lippo Group Mochtar Riady, dan Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Jonathan L Parapak.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE