Rencana Penutupan 9 Pabrik Gula di Jatim Tetap Dilanjutkan

Rencana Penutupan 9 Pabrik Gula di Jatim Tetap Dilanjutkan
Menteri BUMN, Rini Soemarno, dalam acara temu petani tebu di Pabrik Gula (PG) Assembagoes Situbondo, Kamis (22/10). ( Foto: Istimewa )
Amrozi Amenan / JAS Kamis, 12 Januari 2017 | 20:29 WIB

Surabaya - Kementerian BUMN tetap akan melanjutkan rencana penutupan sembilan pabrik gula (PG) di Jawa Timur. Penutupan itu didasarkan umur pabrik yang sudah ratusan tahun dan tidak efisien lagi.

Kesembilan PG itu adalah tiga PG di wilayah PTPN X, yakni Watoetoelis, Toelangan, dan Meritjaan dan enam PG di wilayah PTPN XI, yaitu Poerwodadie, Redjosarie, Kanigoro, Wringinanom, Olean, dan Pandjie.

Menteri BUMN Rini Sumarno saat kunjungan di Surabaya, Rabu (11/1) menegaskan pada dasarnya dia melihat efisiensi PG yang akan ditutup itu sudah rendah dan kualitas produknya juga tidak bisa mengikuti kualitas internasional.

“Jika PG tersebut masih cukup baik, akan dilakukan revitalisasi sehingga kualitas produknya lebih baik dan efisien. Apalagi PG yang bisa menghasilkan produk etanol dan listrik, kita akan terus melanjutkan operasional PG itu,” katanya.

Dan kalau sebaliknya, lanjut dia, Kementerian BUMN akan menutupnya. Tetapi dia juga menegaskan untuk penutupan PG yang tidak efisien tentu menunggu PG baru siap dioperasikan, sehingga, PG sekarang tetap berjalan sambil membangun yang baru.

“Kita bangun yang baru dengan kapasitas lebih besar selama lahan tebu itu cukup. Nanti (PG baru) jadi, yang lain ditutup," ungkap Rini.

Dia juga mengatakan untuk penutupan PG, Kementerian BUMN akan melibatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Untuk itu, rencananya pada 15 Januari nanti dia akan mengumpulkan direksi PTPN. "Nanti PTPN akan melapor ke Pak Gubernur," tandasnya.

Dengan melibatkan pemerintah daerah, Rini tak ingin penutupan itu menimbulkan masalah di daerah seperti pengangguran. “Tujuan penutupan PG tidak ingin menimbulkan pengangguran. BUMN juga punya tanggung jawab bersama dengan pemerintah daerah supaya masyarakat bisa sejahtera, berarti jangan sampai ada pengangguran," terang dia.

Menurut Rini, kerja sama dengan petani di daerah juga diperlukan terutama terkait dengan kesiapan lahan tebu dan petani di sekitarnya untuk mendukung operasional PG baru yang disiapkan untuk mengganti pabrik yang ditutup.

“Untuk mendirikan pabrik baru, perlu dilakukan pemetaan titik-titik petani tebu. Karena lahan pertanian tebu harus dipersiapkan untuk mendukung operasional PG. Satu pabrik gula bisa habis Rp 2 triliun. Kalau petani nggak mau tanam tebu, tapi pilih tanaman yang lain, matilah investasi. Karena itu, kerja sama petani dengan pabrik gula menjadi sangat penting," katanya.

Dia menambahkan rencana penutupan PG bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk tebu. “Sebagai negara juga harus sadar kalau punya produk, harus produk yang kualitasnya internasional. Dan kita harus mampu memproduksi gula sebaik internasional, semurah internasional," ujarnya.

Karena itu, Rini juga menegaskan rencana penutupan PG itu bukan sikap reaktif melainkan upaya menjadikan yang terbaik. “Kita memanfaatkan modal yang kita miliki. Kalau tidak punya modal, ya kita partner dengan orang lain," terang dia.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengapresiasi langkah Kementerian BUMN yang akan melibatkan pemerintah daerah dalam lanjutan rencana penutupan PG di Jatim.

“Saya kira ini satu exit policy bagus. Yang penting kami tetap diajak bicara untuk menyampaikan beberapa hal yang menyangkut masyarakat banyak," katanya.

Dia mengungkapkan pada dasarnya penutupan PG tidak semata-mata terkait dengan efisiensi, tetapi juga menyangkut kepentingan orang banyak. “Karena itu, perlu pembahasan bersama dengan pemerintah daerah,” tandasnya.

Kepala Dinas Perkebunan Jatim Samsul Arifien menambahkan, penutupan PG akan memberi dampak bagi Jatim. Yaitu, potensi hilangnya lahan tebu petani seluas 27.848 hektar atau 13,9 persen dari total 200.000 hektar lahan tebu di Jatim.

Selain itu, produksi gula per musim giling juga berpotensi hilang sebesar 147.301 ton. "Ini lebih 12 persen dari total produksi gula di Jatim sebesar 1,2 juta ton," terang Samsul.

Belum lagi, lanjut Samsul, hilangnya lahan pekerjaan untuk 1,795 juta orang yang selama ini bergantung usaha budidaya tanaman tebu di sembilan PG yang akan ditutup. "Dampak itulah yang perlu dipikirkan bersama antara Kementrian BUMN dengan Pemerintah Daerah," pungkasnya.



Sumber: Investor Daily
CLOSE