Industri Petrokimia Korsel Investasi US$ 4 M di Cilegon

Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu (kiri) memberikan cinderamata kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai mengunjungi gedung Beritasatu Plaza, Jakarta, Kamis (12/1). Investor Daily/David Gita Roza (/David GitaRoza)

Oleh: Siprianus Edi Hardum / EHD | Jumat, 17 Februari 2017 | 18:52 WIB

Jakarta - Industri petrokimia di Indonesia akan semakin produktif dengan bertambahnya investasi baru di sektor tersebut. Industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical akan segera merealisasikan investasinya sebesar US$ 3 - 4 miliar untuk memproduksi naphtha cracker dengan total kapasitas sebanyak 2 juta ton per tahun.

“Bahan baku kimia tersebut diperlukan untuk menghasilkan ethylene, propylene dan produk turunan lainnya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, seusai bertemu dengan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong serta President & CEO Lotte Chemical Titan Holding Sdn. Bhd, Kim Gyo Hyun di Jakarta, Jumat (17/2).

Ia mengatakan, mereka akan investasi di Cilegon, Banten. Airlangga meminta agar cepat terealisasi karena untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kimia di dalam negeri sehingga Indonesia tidak perlu lagi impor.
Airlangga mengatakan, proyek ini akan memakan waktu hingga 4-5 tahun dengan membuka lapangan pekerjaan sebanyak 9.000 orang. “Untuk tahap konstruksi, mereka akan menyerap tenaga kerja sekitar 6.000 orang dan ketika beroperasi butuh 3.000 orang.

Dengan kapasitas Lotte Chemical tersebut dan ditambah dengan ekspansi dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., Indonesia mampu menghasilkan bahan baku kimia berbasis naphtha cracker sebanyak 3 juta ton per tahun sekaligus memposisikan sebagai produsen terbesar keempat di ASEAN setelah Thailand, Singapura dan Malaysia. “Lotte Chemical akan memproduksi ethylene 1 juta ton per tahun, propylene 600 juta ton, serta produk turunan lainnya seperti olefin dan aromatik,” jelas Direktur Industri Kimia Hulu, Muhammad Khayam. Bahan baku kimia tersebut dapat dimanfaatkan untuk sektor hilir seperti industri plastik, tekstil, cat, dan farmasi.

Dikatakan, belakangan ini, impor bahan kimia secara keseluruhan mencapai US$ 5 miliar per tahun, tetapi dengan adanya produksi ini akan mengurangi impor senilai US$ 1,5 miliar per tahun.

Khayam menambahkan, Kemperin akan memfasilitasi pemberian insentif non-fiskal seperti tax allowance dan tax holiday bagi Lotte Chemical. “Untuk lahan, mereka sudah selesaikan. Jadi, diharapkan tahun ini realisasi investasinya bisa dimulai,” imbuhnya.

Kemperin tengah memprioritaskan akselerasi pertumbuhan industri petrokimia di dalam negeri yang merupakan sektor strategis pendukung banyak sektor hilir. Apalagi, selama 15 tahun ini investasi di sektor hulu petrokimia hampir tidak ada.

Untuk itu, Kemperin mengusulkan agar industri petrokimia termasuk sektor yang perlu mendapatkan penurunan harga gas karena sebagai sektor pengguna gas terbesar dalam proses produksinya. Dengan harga gas yang kompetitif, daya saing industri petrokimia nasional makin meningkat.

 




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT