Founder dan chairman Lippo Group Mochtar Riady memberi paparan saat kuliah umum bertajuk "Entrepreneurship Wisdom by Mochtar Riady" yang digelar Universitas Katolik  Soegijapranata Semarang, 21 April 2017.

Mochtar Riady: Perusahaan Harus Sensitif pada Teknologi, Politik, dan Ekonomi

Founder dan chairman Lippo Group Mochtar Riady memberi paparan saat kuliah umum bertajuk "Entrepreneurship Wisdom by Mochtar Riady" yang digelar Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, 21 April 2017. (BeritaSatu Photo/Stefy Thenu)

Semarang - Founder sekaligus Chairman Lippo Group Mochtar Riady mengungkapkan sebuah perusahaan yang hebat dan stabil harus sensitif terhadap perkembangan teknologi, politik dan ekonomi. Jika tidak, maka perusahaan tersebut tinggal menunggu waktu menuju kebangkrutan.

"Dahulu banyak keluarga hebat, sekarang tidak kelihatan keberadaan mereka. Dahulu juga banyak perusahaan berjaya, tetapi sekarang sudah tinggal kenangan. Semuanya karena tidak peka, tidak peduli atau mengabaikan tren perkembangan tiga hal tersebut (teknologi, politik, perdagangan)," demikian disampaikan Mochtar saat kuliah umum bertajuk “Entrepreneurship Wisdom by Mochtar Riady” yang digelar Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Jumat (21/4).

Mochtar mengungkapkan, Jepang di era tahun 80-an dianggap negara super di bidang industri otomotif dan elektronik. Namun saat ini, sudah banyak perusahaan otomotif Jepang dibeli Eropa. Demikian pula, perusahaan elektronik Jepang dibeli Tiongkok.

Menurut dia, banyaknya perusahaan Jepang dijual karena tidak peka terhadap perkembangan politik, ekonomi, dan perdagangan. Belum lagi banyak perusahaan yang semula berjaya, saat ini rontok karena kalah bersaing dengan perusahaan yang menerapkan aplikasi teknologi dalam produksi sampai pemasarannya.

Dalam acara yang dipandu Wakil Rektor IV Unika Soegijapranata, Dr Ridwan Sanjaya ini, Mochtar menyatakan, suatu negara juga bisa mengalami seperti keluarga atau perusahaan yang semula berjaya menjadi terpuruk dan bangkrut kalau tidak mengikuti tren dan inovasi teknologi, politik, dan perdagangan.







Suara Pembaruan

Stefi Thenu/WBP

Suara Pembaruan