Optimalkan Pemanfaatan Bioteknologi untuk Tingkatkan Produktivitas

Diskusi yang digelar CropLife membahas produk rekayasa genetik di Jakarta, Jumat (16/6). ()

Oleh: Heriyanto / HS | Senin, 19 Juni 2017 | 06:15 WIB

Jakarta – Upaya mendorong tercapainya swasembada pangan di Indonesia perlu terus dilakukan secara menyeluruh. Pemanfaatan teknologi merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan produktivitas tersebut. Hal itu penting mengingat sejumlah tantangan dalam meningkatkan produksi pertanian.

Demikian salah satu benang merah dalam diskusi yang digelar CropLife di Jakarta, akhir pekan lalu. Diskusi menghadirkan Chairman CropLife Indonesia Midzon Johannis, Direktur Pupuk dan Pestisida Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Muhlizar Sarwani, dan pakar bioteknologi M Herman. Croplife sendiri merupakan asosiasi pertanian yang bersifat nirlaba (nonprovit) yang mewakili petani, industri benih dan pestisida.

Menurut Midzon Johannis, peningkatan teknologi sangat diperlukan dalam meningkatkan produksi pertanian. Inovasi teknologi tersebut merupakan salah satu misi dari CropLife untuk membantu pelaku produksi pertanian, terutama petani.
“CropLife membantu petani meningkatkan produksi pangan melalui inovasi teknologi,” kata Midzon.

Dikatakan, sejauh ini produksi pertanian dari para petani di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, sangat penting para petani memanfaatkan bioteknologi untuk meningkatkan hasil pertanian yang dilakukan secara modern. Misalnya, pemuliaan tanaman kultur jaringan, biopestisida, hingga sistem transgenik.

Dia menjelaskan bahwa CropLife juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petani dalam pengelolaan resistensi pestisida dengan mengetahui cara kerja dan penggunaannya secara efektif.
“Kami mendorong pemanfaatan bioteknologi untuk meningkatkan hasil pertanian. Kebutuhan pangan dunia, termasuk Indonesia, harus terus ditingkatkan,” kata Head Of Corporate Affairs Syngenta Indonesia ini.
Dikatakan, pendekatan teknologi juga sangat mendesak mengingat semakin sempitnya lahan produksi akibat konversi lahan produktif, faktor iklim, dan beberapa tantangan lainnya. Di Indonesia, produk biteknologi ini juga dikenal dengan produk rekayasa genetik.

Sementara itu, M Herman mengatakan pendekatan melalui bioteknologi merupakan pemanfaatan teknologi dan makhluk hidup dalam memperbaiki sifat dan keunggulan tanaman.

Peneliti Purna Bakti Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian ini menambahkan, bioteknologi menyediakan perangkat pasti yang memungkinkan para peneliti menambahkan sifat atau karakter pada tanaman.

“Sebagai contoh jagung, untuk mendapatkan keunggulannya dilakukan selama bertahun-tahun dengan melibatkan berbagai pakar sehingga tetap layak dikonsumsi. Bioteknologi jagung tahan hama itu ditemukan pada tahun 1980an dan baru dipasarkan sekitar tahun 1996,” ujarnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT