Beli 11 Sukhoi, RI Bayar Separuhnya dengan Komoditas Senilai Rp 7,6 T

Pesawat tempur Sukhoi 35 buatan Rusia. (Istimewa)

Oleh: Robertus Wardi / FMB | Selasa, 22 Agustus 2017 | 16:39 WIB

Jakarta - Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk membeli 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia. Pembelian alat peralatan pertahanan keamanan (Alpalhankam) itu melalui mekanisme imbal beli antar dua negara. Dari total pembelian US$ 1,14 miliar, Indonesia membayar separuhnya dengan komoditas ekspor.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengemukakan dengan pembelian tersebut, Indonesia berpotensi menghasilkan ekspor ke Rusia sebesar 50 persen dari nilai pembelian tersebut, atau senilai US$ 570 juta.

"Pembelian ini untuk menggantikan pesawat F-5. Semua untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan kita," kata Ryamizard dalam konferensi pers bersama ‎Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta, Selasa (22/8).

Ia menjelaskan‎ mengacu ke UU No16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan Pasal 43 ayat 5 (e) dinyatakan bahwa setiap pengadaan Alpalhankam dari luar negeri wajib disertakan imbal dagang, kandungan lokal dan offset minimal 85 persen, di mana kandungan lokal atau ofset paling rendah 35 persen. Karena pihak Rusia hanya sanggup memberikan offset dan lokal konten sebesar 35 persen maka Indonesia mendapatkan i‎mbal beli yang nilainya 50 persen nilai kontrak.

"Pemerintah Indonesia membeli SU-35 dari Rusia dan Rusia sebagai negara penjual berkewajiban membeli sejumlah komoditas ekspor Indonesia. Dengan skema imbal beli tersebut, Indonesia mendapat potensi ekspor sebesar 50 persen dari nilai pembelian SU-35. Persentase dalam pengadaan SU-35 ini yaitu 35 persen dalam bentuk offset dan 50 persen dalam bentuk imbal beli. Dengan demikian, Indonesia mendapatkan nilai ekspor sebesar US$ 570 juta dari USD 1,14 miliar
pengadaan SU-35,” jelas Ryamizard.

Sebagaimana diketahui skema imbal beli merupakan suatu cara pembayaran barang yang mewajibkan pemasok luar negeri untuk membeli dan memasarkan barang tertentu dari Indonesia sebagai pembayaran atas seluruh atau nilai sebagian barang dari pemasok luar negeri. Instrumen lain yang bisa dipergunakan oleh pemerintah antara lain adalah barter atau pertukaran barang dengan barang lain, pembelian kembali dan offset atau pembelian barang di mana pemasok luar negeri menyetujui untuk melakukan investasi kerja sama produksi dan alih teknologi.

Skema imbal beli wajib dilaksanakan pada program pengadaan barang asal impor seperti oleh kementerian/ lembaga, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, lembaga pemerintah non departemen yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Sementara Menag Enggartiasto mengemukakan kesepakatan antara Indonesia dan Rusia ditandatangani 10 Agustus 2017 lalu, saat pelaksanaan misi dagang ke Rusia yang dipimpin oleh dirinya. Pemerintah Rusia dan Indonesia sepakat menunjuk Rostec dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebagai pelaksana teknis imbal beli tersebut. Dalam kesepakatan tersebut Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor, dengan pilihan berupa karet olahan dan turunannya, kelapa sawait dan turunannya, mesin, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya. Pilihan lainnya adalah tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, kopra, plastik dan turunannya, resin, kertas, rempah-rempah, produk industri pertahanan, dan produk lainnya.

"Dengan imbal beli ini, Indonesia dapat mengekspor komoditas yang sudah pernah diekspor maupun yang belum diekspor sebelumnya,” kata Enggar.

Menurutnya, Rostec juga diberikan keleluasaan untuk memilih calon eksportir sehingga bisa
mendapatkan produk ekspor Indonesia yang berdaya saing tinggi. Mekanisme imbal beli ini selanjutnya menggunakan working group yang anggotanya berasal dari Rostec dan PT. PPI.

Untuk diketahui, SU-35 dikembangkan oleh produsen pesawat Sukhoi Company Rusia antara tahun 2003 hingga 2008. Pesawat ini pertama kali diperkenalkan kepada khalayak pada ajang Paris Air Show 2013 sebagai ”generasi 4 ++” derivatif heavily-upgraded dari pesawat Su-27 multi-role.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT