⁠Tirta Investama Junjung Etika Bisnis dan Hukum

Saksi pedagang memberikan keterangan dalam sidang Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tentang dugaan monopoli perdagangan air minum dalam kemasan (AMDK), Selasa (18/7/2017) (istimewa/Istimewa)

Oleh: Iman Rahman Cahyadi / CAH | Rabu, 13 September 2017 | 22:06 WIB

Jakarta - PT Tirta Investama (produsen Aqua) sebagai produsen air minum merek Aqua tidak memiliki wewenang untuk menurunkan status sebuah toko. Kuasa hukum Tirta Investama Rikrik Rizkiyana menegaskan bisnis air minum dalam kemasan (AMDK) ini mempunyai ceruk sangat besar dan banyak pemain baru ikut menikmatinya.

“Klien kami adalah perusahaan multinasional dan dalam berbisnis lebih dari 40 tahun menjujung tinggi etika bisnis dan hukum, termasuk hukum persaingan usaha yang sehat serta menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance. Hal ini dibuktikan dengan kode etik komersial Aqua Grup dan kebijakan kepatuhan di bidang persaingan usaha yang termuat dalam competion policy,” ujar Rikrik usai persidangan di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Jakarta, Selasa (12/9).

Pada sidang pemeriksaan itu menghadirkan saksi Key Account Executive Depo PT Tirta Investama Cikampek, Sulistyo. Dalam kesaksiannya, Sulistyo membeberkan alasannya mengirimkan surat elektronik (surel) adalah permasalahan pribadi dengan Yatim Agus Prasetyo selaku pemilik Toko Vanny, Karawang yang berstatus Star Outlet (SO) yang sebelumnya juga dihadirkan sebagai saksi oleh tim investigasi KPPU.

"Klien kami tidak pernah menghalangi-halangi pihak manapun untuk melakukan bisnis. Jadi penurunan status Toko Vanny tidak ada hubungannya dengan tuduhan persaingan usaha tidak sehat, semua berawal dari kinerja yang tak optimal. Data kami menunjukan dari target penjualan terlihat bahwa sebetulnya performance Toko Vanny belum layak jadi SO," ujar Rikrik.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Ine S Ruky mengatakan bahwa di industri dimana semua pemain bisa melakukan penjualan dengan bebas dan pertumbuhan penjualan masih berjalan, menunjukkan bahwa persaingan di industri tersebut masih sehat.

Le Minerale, produk baru di industri air minum dalam kemasan mengalami pertumbuhan yang fantastis. Media online Marketeer, mengutip laporan Nielsen menuliskan Le Minerale berhasil meraih pertumbuhan volume sebesar 252,5 persen dan value sebesar 283,4 persen. Torehan tersebut menjadikan Le Minerale didaulat sebagai merek AMDK dengan pertumbuhan tertinggi sepanjang tahun 2016.

Sebagaimana dikutip Marketeer, Bahrun Afriansyah, Marketing Manager PT Tirta Frestindo Jaya, produsen Le Minerale mengatakan di tahun 2016 Le Minerale berhasil menduduki posisi kedua perolehan market share secara value maupun volume untuk kategori AMDK ukuran 600 ml.

Dalam dua tahun terakhir, agresivitas pemasaran Le Minerale sangat terlihat. Branding produknya terpapar besar besaran di toko toko tempat penjualan.

"Dengan kesuksesan penjualan Le Minerale dan agresifitas penjualan Le Minerale yang sangat mencolok, sangat diragukan terjadinya hambatan persaingan di pasar industri Le Minerale," kata Agus Pambagio selaku pengamat kebijakan publik.⁠⁠⁠⁠⁠




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT