Pertumbuhan Kuartal III di Bawah Target, Pemerintah Dorong Ekspor

Ilustrasi (Antara/Sigid Kurniawan)

Oleh: Novi Setuningsih / WBP | Selasa, 7 November 2017 | 19:55 WIB

Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan pemerintah akan meningkatkan investasi dan ekspor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional mengingat data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2017 tumbuh 5,06 persen, atau di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen hingga 5,4 persen. Salah satu upaya meningkatkan ekspor, menurut JK mendorong percepatan 16 kesepakatan perjanjian perdagangan bebas di antaranya, dengan Australia, Uni Eropa (UE), Inggris, dan Turki.

"Kita panggil Menteri Perdagangan untuk mempercepat yang mempunyai dampak besar seperti Uni Eropa, Inggris, Turki, Australia. Negara seperti Vietnam, Thailand sudah mempunyai hubungan perdagangan. Malaysia punya perdagangan dengan negara lain, sehingga bea masuk mereka lebih rendah daripada kita. Sawit contohnya, akibatnya orang memilih untuk membeli sawit dari Malaysia," kata JK, di Jakarta, Selasa (7/11).

Apalagi, tegas dia, harga komoditas sudah membaik. Oleh karena itu, dengan perjanjian pedagangan diharapkan akan meningkatkan ekspor, sehiingga akan menambah pemasukan negara sekaligus menggenjot pertumbuhan ekonomi.

JK mengungkapkan pemerintah juga terus melakukan pembangunan infrastruktur guna mendorong masuknya investasi. "Kalau APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kan sudah maksimum, tinggal bagaimana APBN itu dapat memberi stimulan kepada pertumbuhan lainnya, seperti pembangunan infrastruktur membuat logistik lebih murah, bisa memberikan pendapatan orang sehingga meningkatkan konsumsi dan bisa naik (pertumbuhan ekonomi)," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Wapres meminta percepatan penyelesaian sejumlah perundingan perjanjian perdagangan bebas yang menjadi prioritas pemerintah tahun 2017 dan 2018. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan setidaknya ada 16 perjanjian perdagangan bebas yang harus diselesaikan. Perinciannya, tiga prioritas selesai tahun 2017, tiga prioritas tahun 2018 dan tiga tengah berlangsung.

"(perjanjian perdagangan bebas dengan) Australia, EFTA (European Free Trade Association) dan Chile (tahun ini). IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement), RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) , dan dengan Iran. Pakistan (sedang) review, tahun depan," ungkapnya.

Sementara Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemdag) Iman Pambagyo mengatakan ada 13 mitra runding baru yang dipertimbangkan akan dieksekusi tahun 2018, di luar 16 perundingan yang sedang berjalan.

"Tapi total yang kita lihat untuk tahun depan, akan datang itu ada 13 mitra runding, termasuk Eurasia. Yang kita usulkan dimulai tahun depan (perundingannya) adalah dengan Turki, Peru, Mozambique, Nigeria, Kenya, Marokko, Afrika Selatan, Sri Lanka, Banglades, Eurasia, Gulf Country Coop (Timur Tengah) dan FTA Asean-Kanada," katanya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT