Kenaikan Harga Minyak Belum Ganggu Fiskal

Ilustrasi harga minyak dunia (Istimewa)

Oleh: Tri Listiyarini / HA | Rabu, 15 November 2017 | 01:43 WIB

Jakarta - Kenaikan harga minyak mentah (crude oil) di pasar internasional belum mengganggu kondisi fiskal Indonesia. Sebab, besaran subsidi, terutama subsidi energi, yang ditanggung APBN saat ini sudah tidak terlalu besar. Di sisi lain, kenaikan harga minyak justru akan meningkatkan penerimaan negara terutama dari sektor minyak dan gas (migas).

Direktur Penelitian CORE Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, kenaikan harga minyak justru bagus untuk kondisi fiskal Indonesia. Kenaikan harga minyak akan mendongkrak lifting yang berdampak pada kenaikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) migas. Dengan harga minyak yang saat ini di kisaran US$ 50-60 per barel, PNBP migas akan bertambah sekitar Rp 50 triliun.

"Kondisi fiskal (APBN) masih aman, baik APBN-P 2017 maupun APBN 2018. Kenaikan harga minyak justru berdampak positif, kalau harganya melewati target harga yang dipatok berarti PNBP malah meningkat, penerimaan jadi lebih besar,” kata dia kepada Investor Daily, Selasa (14/11).

Faisal menjelaskan, apalagi saat ini subsidi yang harus ditanggung APBN relatif kecil. Bukan hanya subsidi bahan bakar minyak (BBM) namun juga subsidi untuk listrik. Namun demikian, pemerintah tetap harus melakukan antisipasi apabila nantinya tetap mempertahankan subsidi untuk listrik 900 watt, sebab subsidi listrik sangat tergantung fluktuasi harga minyak.

“Tapi saya kira tidak perlu khawatir karena harga minyak nampaknya juga tidak akan sampai di atas US$ 100 per barel, ini kelihatan naik tinggi karena tadinya harga minyak di kisaran US$ 40 per barel. Kenaikan sekarang hanya sesaat karena lebih dipengaruhi faktor suplai bukan permintaan,” ujar dia.

Harga Minyak Naik, Penerimaan APBN Terkerek
Senada dengan itu, Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty mengungkapkan, tren kenaikan harga minyak saat ini justru akan membantu memperbaiki kondisi fiskal Indonesia. Kenaikan harga minyak akan berdampak pada membaiknya penerimaan, terutama dari bagi hasil migas.

“Apalagi, kebijakan fiskal Indonesia saat ini sudah tidak banyak subsidi seperti dahulu, sudah banyak yang dilepas ke pasar. Artinya, risiko fiskal dengan kenaikan harga minyak tidak akan sebesar dulu ketika masih banyak subsidi. Jadi, kenaikan harga minyak belum mengganggu APBN,” ujar Telisa.

Menurut dia, dalam sejarah defisit fiskal, defisit yang terjadi saat ini realisasinya juga relatif lebih rendah. Ruang penghematan juga cukup membantu kondisi fiskal, baik penghematan dari belanja pegawai maupun belanja barang.

“Artinya, kondisi fiskal kita saat ini masih terkendali. Apalagi kan dalam postur APBN itu ada toleransi asumsi di kisaran 10% dari yang ditetapkan, tapi kalau dilihat harga minyak saat ini masih di bawah toleransi. Memang tetap harus diwaspadai karena secara jangka panjang diperkirakan harga minyak akan naik, ibaratnya lampu ini kondisinya belum kuning. Harapannya memang harga minyak naiknya tidak terlalu tinggi,” ujar dia.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menjelaskan, kondisi fiskal Indonesia tidak perlu dikhawatirkan apabila pemerintah mengantisipasi tren kenaikan harga minyak mentah dengan melakukan refocusing belanja khususnya belanja infrastruktur.

“Dengan naiknya harga minyak ini maka antisipasinya adalah belanja perlu refocusing khususnya belanja infrastruktur. Sebagian belanja infrastruktur bisa dibuat pembiayaan multiyear sehingga belanja bisa saving cukup besar,” jelas Bhima.

Bhima menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah memang mempunyai dua sisi terhadap perekonomian Indonesia. Dari sisi anggaran, kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN membuat belanja subsidi energi membengkak. Imbasnya, di tengah penerimaan pajak yang lesu, defisit fiskal sampai akhir tahun bisa di atas 2,70%.

“Ini tentu kurang sehat bagi anggaran negara. Jika pemerintah masih mempertahankan subsidi maka opsinya adalah menambah utang pemerintah ke Pertamina. Kerugian Pertamina bisa dobel. Dari BBM satu harga plus menambal selisih harga keekonomian BBM, seharusnya harga premium sudah di atas Rp 7.000 per liter. Artinya, ada selisih Rp 500-700 per liter yang harus ditanggung Pertamina,” ujar dia.

Namun demikian, kenaikan harga minyak juga memiliki sisi positif. Kenaikan harga minyak mentah membuat komoditas lainnya ikut naik seperti batubara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

“Pertumbuhan ekonomi saat ini lebih disokong oleh ekspor yang mencatat pertumbuhan sebesar 17% di kuartal III-2017. Jadi, ini dampak positif kenaikan harga minyak bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Bhima.

Menurut Bhima, sampai akhir tahun, Indonesia juga diproyeksi melanjutkan surplus neraca perdagangan dengan ekspektasi harga minyak naik hingga di atas US$ 58 per barel pada akhir 2017. Tahun depan, harga minyak bisa US$ 60-70 per barel. Pemicu kenaikan harga minyak yaitu konflik internal di Arab Saudi, potensi perang Arab-Lebanon, permintaan naik menyambut musim dingin, dan pemulihan permintaan ekonomi global khususnya Tiongkok.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT