Local Currency Settlement, Efisiensikan Biaya Transaksi Perbankan

Local Currency Settlement, Efisiensikan Biaya Transaksi Perbankan
Ilustrasi Rupiah. ( Foto: BeritaSatu Photo / David Gita Roza )
Nida Sahara / WBP Selasa, 12 Desember 2017 | 10:06 WIB

Jakarta - Perbankan di Indonesia menyambut gembira kerja sama Bank Indonesia (BI) dengan bank sentral Thailand dan Malaysia terkait penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan atau local currency settlement (LCS). Perbakan dalam negeri menilai, kerja sama itu membuat biaya transaksi antarnegara lebih efisien dan murah. Pasalnya, perbankan lokal bisa langsung membeli mata uang negara tujuan tanpa perlu membeli dolar lebih dulu.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Achmad Baiquni mengatakan, langkah awal yang akan dilakukan yakni, BRI akan membuka akun rekening di Thailand dan Malaysia. Hal tersebut untuk mempermudah dalam melakukan transaksi di kedua negara tersebut, sehingga dana yang dikeluarkan main hemat karena bisa mengikuti nilai tukar mata uang lokal.

Dia menjelaskan, ekspor ke dua negara tersebut sekitar US$ 28 miliar pada tahun 2016. Sementara pada tahun ini transaksi kedua negara tersebut menurun menjadi sekitar US$ 24 miliar. "Dengan kerja sama ini, diharapkan transaksi local currency bisa meningkat, khususnya pada mata uang baht Thailand dan ringgit Malaysia. Jadi tidak perlu menggunakan dolar dulu, ini akan membuat biaya transaksi lebih efisien," jelas Baiquni di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (11/12).

Dia memaparkan, transaksi trade finance BRI untuk kedua negara tersebut pada tahun lalu mencapai US$ 145 juta. Sampai Oktober 2017, transaksi ekspor dan impor BRI ke Thailand dan Malaysia sekitar US$ 80 juta, diharapkan dapat meningkat hingga akhir tahun. Manfaat kerja sama ini lanjut Baiquni yakni transaksi dengan menggunakan Thai bath dan ringgit Malaysia bisa tumbuh.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan, transaksi perdagangan di Indonesia untuk ekspor sebesar 94 persen masih menggunakan dolar AS. Sedangkan, untuk transaksi impor sebesar 78 persen menggunakan dolar. Dengan local currency settlement framework, mata uang untuk ekspor dan impor bisa lebih beragam.

Sementara menanggapi hal tersebut, Baiquni mengharapkan, penggunaan dolar dalam transaksi ekspor-impor bisa ditekan, sehingga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar. "Kami harapkan transaksi ekspor dan impor menggunakan dolar bisa turun sekitar 70 persen-80 persen, itu sudah bagus untuk perekonomian Indonesia," kata Baiquni.

Menurut dia, dengan LCS ini, pelaku usaha yang sering melakukan ekspor dan impor dapat lebih efisien menggunakan mata uang negara setempat, sehingga tidak perlu lagi menggunakan dolar.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengaku, LCS ini bisa membuat perseroan lebih efisien karena tidak perlu menjual atau membeli dolar terlebih dahulu. "Harapannya, eksposur terhadap dolar bisa menurun, yang disiapkan kami lihat per transaksi nasabah, karena pengusaha bisa tiba-tiba tawarkan yang bagus mereka akan cek kurs dulu baru bisa masuk. Jadi perlu disosialisasi dan edukasi juga ke nasabah supaya bisa mengerti," kata Jahja.

Sementara Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Tigor Siahaan mengharapkan penggunaan dolar bisa dikurangi sehingga biaya transaksi akan lebih efisien. LCS ini dinilai dapat meningkatkan transaksi trade finance perseroan. "Iya bisa mendorong trade finance karena efisien, karena kalau rupiah kami mau ganti ke ringgit, tapi harus ke dolar dulu baru ke ringgit untuk apa. Jadi antara rupiah ke ringgit atau rupiah ke baht saja," jelas Tigor.

Ke depan, Tigor mengharapkan akan ada kerja sama dengan negara-negara lain. Pasalnya, transaksi di dunia lebih banyak menggunakan dolar. "Karena dunia ini banyak pakai dolar, padahal barangnya tidak ada hubungannya dengan Amerika, hanya antara Indonesia dengan Malaysia, jadi tidak ada hubungannya dengan dolar harus," ungkap dia.

Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia Nanang Hendarsah menjelaskan, selain menjadi efisien karena spread-nya lebih kecil, LCS akan mendorong pendalaman pasar keuangan, yakni mengurangi ketergantungan dolar AS. "Manfaatnya biaya trasaksi akan lebih murah, tadinya ada dua kali spread, sekarang cuma sekali. Kemudian jika melihat volume transaksi perdagangan dengan dolar yang disebut tadi, seharusnya nilai itu bisa digantikan, itu potensinya," terang dia.

Indikator Pemilihan Bank
Nanang memaparkan, pemilihan keenam bank di Indonesia untuk melakukan LCS di ataranya, dari tingkat kesehatan bank dan dari lini bisnis yang selama ini memfasilitasi perdagangan antara Indonesia-Thailand-Malaysia. "Tingkat kesehatan menjadi sangat penting, indikatornya banyak. Tentu permodalan, kemudian dari sisi dukungan sumber daya, maka baru bank besar saja. Saat ini menjadi prototipe dan akan diperluas, tapi kami lihat perkembangannya dulu," papar Nanang.

Sementara keenam bank yang akan melayani LCS yakni, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, BNI, BCA, Bank CIMB Niaga, dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk.

Pelaksanaan transaksi perdagangan dengan menggunakan rupiah, ringgit, dan baht ini baru akan berlangsung pada 2 Januari 2018 mendatang. Hal ini seiring dengan resmi diluncurkannya kerangka kerja sama antara Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, dan Bank of Thail‚Äč‚Äčand guna mendorong penyelesaian perdagangan dan investasi langsung dalam mata uang lokal.

Adapun dari Malaysia, bank yang akan terlibat, yakni CIMB Bank Berhad, Malayan Banking Berhad, Hong Leong Bank Berhad, Malayan Banking Berhad, Public Bank Berhad, RHB Bank Berhad, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Malaysia Berhad, dan United Overseas Bank (UOB) Berhad.

Sedangkan Thailand, ada Bangkok Bank PCL, Bank of Ayudhya PCL, Kasikornbank PCL, Krungthai Bank PCL, Siam Commercial Bank PCL, CIMB Thai PCL dan UOB Thai PCL.



Sumber: Investor Daily
CLOSE