Demi Fortifikasi, SNI MGS Perlu Direvisi

Demi Fortifikasi, SNI MGS Perlu Direvisi
Prof Dr Purwiyatno Hariyadi—guru besar Teknologi Pangan IPB (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana)
L Gora Kunjana / GOR Rabu, 14 Februari 2018 | 23:02 WIB

Jakarta - Agar program fortifikasi atau penambahan vitamin A dalam minyak goreng sawit (MGS) bisa diterapkan sebagai upaya yang efektif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), SNI No.7709/2012 tentang Minyak Goreng Sawit perlu direvisi.

Demikian pandangan Prof Dr Purwiyatno Hariyadi—guru besar Teknologi Pangan IPB dalam diskusi panel pada Seminar bertema “Sudah Siapkah Fortifikasi Vitamin A Minyak Goreng Sawit Dilaksanakan” di Hotel Aryaduta, Tugu Tani, Jakarta, Rabu (14/2).

Selain Purwiyatno, seminar yang digelar Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) ini juga menghadirkan Enny Ratnaningtyas—direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan, Ditjen Industri Agro, Kemenperin, Prof Dr Soekirman—Koalisi Fortifikasi Indonesia, Dr Paul Wassell—PT SMART Tbk, dan Prof Dr dr Erni Hermawati Purwaningsih MS, guru besar Farmakologi FKUI.

Diskusi panel yang dimoderatori Dr Darmono Taniwiryono—Ketua Umum MAKSI ini diawali sambutan dan pengantar oleh Prof Bungaran Saragih –Ketua Dewan Pembina Paspi, dan Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga, Keynote Speech oleh Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto, serta ditutup oleh Direktur Eksekutif Dr Ir Tungkot Sipayung.

“Saya setuju bahwa fortifikasi adalah cara efektif untuk intervensi dalam rangka peningkatan sumber daya manusia. Itulah yang melatarbelakangi fortifikasi vitamin A pada minyak goreng sawit. Tapi SNI No 7709/2012 perlu direvisi karena menurut saya aneh,” katanya.

Purwiyatno menjelaskan bahwa SNI tentang minyak goreng sawit mempersyaratkan MGS itu difortifikasi dengan vitamin A. Padahal di dalam prakatanya SNI menyebutkan tujuan dibuatnya SNI. Yaitu: pertama melindungi konsumen, kedua menjalin perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab, ketiga mendukung perkembangan dan diversifikasi produk minyak sawit, dan meningkatkan gizi masyarakat melalui fortifikasi vitamin A.

Menurut dia, yang perlu dikoreksi di dalam SNI tersebut adalah antara lain definisi tentang minyak goreng sawit. “Jadi definisi minyak goreng sawit adalah bahan pangan dengan komposisi utama trigliserida berasal dari minyak sawit, dengan atau tanpa perubahan kimiawi, termasuk hidrogenasi, pendinginan dan telah melalui proses pemurnian dengan penambahan vitamin A. Jadi kalau tidak ditambah dengan vitamin A tidak boleh disebut dengan minyak goreng sawit. Nah ini yang menurut saya tidak benar,” paparnya.

Berikut adalah beberapa argumentasi penting mengapa SNI 7709-2012 tersebut, menurut Purwiyatno, perlu direvisi sebelum diberlakukan wajib.

Pertama, secara tegas dalam prakata SNI Minyak Goreng Sawit (SNI 7709:2012), SNI ini disusun untuk mencapai 4 tujuan utama, dimana tujuan peningkatan gizi masyarakat melalui fortifikasi vitamin A adalah hanyalah satu dari 4 tujuan tersebut. Tujuan ini jelas penting dan mulia; namun demikian, tujuan ini sesungguhnya bisa dicapai tanpa harus memaksakan memasukkan kata-kata “dengan penambahan vitamin A” dalam definisi minyak goreng sawit (dengan target minimum 45 IU vitamin A/g minyak goreng sawit).

Menurut WHO/FAO (Guideline for Food Fortification with Micronutrients), senyawa beta-karoten, bersama-sama dengan retinyl palmitate, dan retinyl acetate merupakan fortifikan vitamin A dengan stabilitas yang baik untuk ditambahkan pada minyak dan lemak. Jika mengikuti kaidah FAO/WHO Expert Group dalam konversi vitamin A, maka 45 IU vitamin A/g minyak = 45x0,6 μg beta-karoten/g minyak; atau 27μg beta-karoten/g minyak; atau 27 ppm beta-karoten. Secara sederhana jika proses pemurnian dikendalikan dengan baik, maka bisa saja dihasilkan minyak goreng sawit dengan kandungan beta-karoten sekitar 27 ppm yang berarti mempunyai aktivitas vitamin A sekitar 45 IU. Artinya, minyak goreng sawit dengan kandungan beta-karoten 27 ppm akan mampu berperan sebagai sumber vitamin A (dalam hal ini pro-vitamin A) untuk mengatasi permasalahan gizi yang ada (sesuai dengan target SNI 7709:2012)

Kedua, masih dari dokumen SNI 7709:2012, dinyatakan bahwa SNI ini dibuat untuk mendukung perkembangan dan diversifikasi produk industri minyak goreng sawit. Namun demikian, hasil pengembangan dan diversifikasi produk industri minyak goreng sawit dengan kandungan beta-karoten 27 ppm ini tidak boleh disebut sebagai minyak goreng sawit, karena tidak sesuai dengan definisi minyak goreng sawit sesuai dengan SNI 7709-2012. Tidak sesuai dengan definisi karena tidak dilakukan penambahan vitamin A. Dengan kata lain, adanya pemberlakuan SNI ini justru tidak akan mendukung perkembangan dan diversifikasi produk industri minyak goreng sawit.

Ketiga, karena sesuai dengan SNI bahwa untuk bisa disebut sebagai minyak goreng sawit, maka minyak goreng hasil pengembangan yang sudah mengandung beta-karoten cukup itu masih tetap harus ditambahkan dengan vitamin A sebanyak minimum 45 IU. Artinya secara total minyak goreng sawit tersebut berpotensi untuk mempunyai aktivitas vitamin A berlebih. Minyak goreng sawit demikian akan memenuhi syarat SNI, walaupun bisa saja memberikan kelebihan konsumsi vitamin A yang tidak diperlukan. Hal ini perlu dipertimbangkan dengan lebih baik.

Keempat, dengan definisi SNI 7709-2012 seperti yang ada sekarang ini maka program fortifikasi ini hanya bisa dilakukan dengan impor vitamin A. Jika standar (SNI) menghendaki bahwa minyak goreng sawit mengandung vitamin A setara dengan 45 IU, maka hal ini sebetulnya bisa dicapai tanpa harus ditambahkan vitamin A, dengan dua opsi, yaitu (i) mengubah proses pemurnian; dengan mengatur dan mengendalikan proses pemurnian sehingga tidak semua beta-karoten rusak atau hilang dan menyisakan 27 ppm beta karoten (setara dengan 45 IU vitamin A), (ii) menggunakan minyak sawit merah (MSM) sebagai fortifikan (dan bukannya vitamin A impor). Namun demikian, dua opsi tersebut menjadi hilang karena SNI 7709-2012 mempersyaratkan harus ditambahkan Vitamin A.

Terakhir, SNI 7709-2012 melemahkan daya saing minyak sawit. Kewajiban penambahan vitamin A pada minyak goreng hanya ada pada minyak goreng sawit. Kewajiban tersebut tidak ada pada minyak goreng kedelai atau pun minyak goreng jagung yang merupakan pesaing minyak goreng sawit.

Fortifikan dan opsi lain

Dengan demikian, pemberlakuan SNI 7709-2012, tidak hanya akan menghambat inovasi dan diversifikasi produk minyak goreng, tetapi juga berpeluang besar memperlemah daya saing minyak goreng sawit terhadap minyak sejenis, khususnya minyak goreng impor, yaitu minyak goreng kedelai dan minyak goreng jagung.

“Jadi hendaknya sebelum diberlakukan wajib, SNI 7709- 2012 (khususnya definisi minyak goreng sawit) perlu ditinjau ulang, perlu diubah, sehingga tujuan perumusan SNI bisa dicapai dengan baik dan sekaligus mampu meningkatkan daya saing minyak goreng sawit,” katanya.

Adanya kata-kata “dengan penambahan vitamin A” dalam SNI, menurut Purwiyatno perlu dihapus. Jika tujuan pemecahan masalah gizi kekurangan vitamin A memang perlu penanganan khusus melalui fortifikasi minyak goreng, maka pertama peraturan tersebut hendaknya berlaku pada semua minyak goreng (tidak hanya diberlakukan pada minyak goreng sawit). Kedua, susunan kata-katanya perlu diubah, untuk mengakomodasikan sifat unggul sawit, khususnya karena kandungan beta-karotennya.

Purwiyatno mengusulkan kata-kata ‘dengan penambahan vitamin A’ diganti dengan ‘dengan atau tanpa penambahan vitamin A’. Sedangkan mengenai mutu minyak goreng tidak perlu dipersyaratkan bahwa kandungan vitamin A (yang di dalam SNI 7709-2012 tersebut vitamin A diukur sebagai retinol dan/atau retinil palmitat) tetapi cukup dipersyaratkan mempunyai aktivitas vitamin A setara dengan 45 IU, yang bisa dicapai juga dengan pemanfaatan beta-karoten.

“Dalam hal ini minyak sawit merah bisa kita gunakan sebagai fortifikan . Contohnya, kalau kita punya minyak goreng komersial yang tidak mengandung vitamin A dan beta-karoten karena sudah putih, kita bisa tambahkan minyak sawit merah sehingga kita peroleh minyak goreng yang tidak terlalu merah dengan kandungan vitamin A dan beta-karoten,” kata Purwiyatno.

“Jadi yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa saya tidak agains (menentang) fortifikasi, apalagi dengan permasalahan gizi yang sedang kita hadapi sekarang ini. Yang saya sarankan adalah lanjutkan fortifikasi tapi yang utama modifikasi SNI, bagaimana kita berkontribusi untuk meningkatkan status vitamin A opsinya jadi terbuka. Boleh menambahkan retinil palmitat, bisa juga memodifikasi proses sedemikian rupa sehingga di akhir proses masih menyisakan beta-karoten pada level yang eqivalin dengan yang disyaratkan SNI yang akan diperbaiki tadi. Atau kita menambahkan di akhir dengan sedikit minyak sawit merah,” pungkasnya. (*)



Sumber: BeritaSatu.com